Aliran Idealisme | Idealisme merupakan sebuah pemikiran filosofis yang telah memberikan pengaruh besar terhadap dunia pendidikan selarna beberapa abad. Sebagai sebuah filsafat, ideaIisme kurang memberikan pengaruh secara langsung terhadap pendidikan pada abad ke-20 dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Idealisme telah diperkenalkan oleh Plato pada abad ke-4 sebelum menjadi aliran filasafat pada abad ke-9 M. Oleh sebab itu, Plato dijuluki dengan bapak idealisme.

Pada abad 18 dan 19 yang dianggap sebagai abad keemasan, Idealisme banyak menciptkan filosof – filosof yang ternama, seperti; Ficle, Shille, Hegel, Karl Marx dan John Dewey, Fredik Frobel, Ramph Waldo Emerson dan Henry David Thoreau.

  1. Makna Idealisme

Arti falsafi kata idealisme lebih banyak diartikan bersal dari kata ide daripada  kata ideal.  W.F.  Hocking,  seorang  idealis  mengatakan  bahwa kata – kata idea-isme adalah  lebih  tepat  dari  pada idealisme. Idealisme  menjelaskan  bahwa  realitas  terdiri  atas  ide-ide,  fikiran-fikiran, akal (mind) atau  jiwa (selves)  dan  bukan  benda  material  dan  kekuatan. Idealisme menekankan akal sebagai hal yang lebih dahulu daripada materi. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan bahwa Idealisme   adalah   suatu   pandangan   dunia atau   metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, fikiran atau jiwa.

  1. Pandangan Fiosofis Idealisme

Pandangan filosofis idealisme dapat dilihat pada cabang-cabang filsafat yaitu ontologi, epistemologi dari aksiologi. Adapaun penjelasannya sebagai berikut:

  1. Kajian Ontologi

Kajian ontologi merupakan kajian tentang realitas akal pikiran. Dunia akal pikir terfokus pada ide gagasan yang lebih dulu ada dan lebih penting dari pada dunia empiris indrawi. George Knight mengemukakan bahwa realitas bagi idealisme adalah dunia penampakan yang ditangkap dengan panca indera dan dunia realitas yang ditangkap melalui kecerdasan akal pikiran (mind). lebih lanjut ia mengemukakan bahwa ide gagasan yang lebih dulu ada dibandingkan objek-objek  material, dapat diilustrasikan dengan kontruksi sebuah kursi. Para penganut idealisme berpandangan bahwa seseorang haruslah telah mempunyai ide tentang kursi dalam akal pikirannya sebelum ia dapat membuat kursi untuk diduduki. Metafisika idealisme nampaknya dapat dirumuskan sebagai sebuah dunia akal pikir kejiwaan.

Metafisika idealis melibatkan sebuah transmisi dari kesatuan individu (spiritual diri) atau disebut mikrokosmos ke asumsi bahwa seluruh alam semesta adalah non material yang sama dan juga spiritual diri yang besar dan spiritual diri yang lebih komprehensif atau disebut makrokosmos. Melalui prinsip hubungan, mikrokosmos dikaitkan dengan makrokosmos. Dengan kata lain, manusia (merupakan bagian dari mikrokosmos) menyadari apa yang sedang berlangsung di alam semesta (makrokosmos), juga sedang berlangsung dengan dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan pengakuan bahwa hanya pikiran (manusia) yang dapat mengetahui pikiran (alam/pencipta).

  1. Kajian Epistemologi

Kajian epistemologi merupakan kajian tentang kebenaran sebagai ide atau gagasan. dalam idealisme, kebenaran merupakan sesuatu yang inheren dalam hakikat alam semesta, oleh karena itu, Ia telah dulu ada dan terlepas dari pengalaman. Dengan demikian, cara yang digunakan untuk meraih kebenaran tidaklah bersifat empirik. Penganut idealisme mempercayai intuisi, wahyu dan rasio dalam fungsinya meraih dan mengembangkan pengetahuan. Metode-metode inilah yang paling tepat dalam menggumuli kebenaran sebagai ide gagasan, dimana ia merupakan pendidikan epistemologi dasar dari idealisme.

Berdasarakan prinsip idealis yang koheren dari kebenaran, kebenaran adalah seperangkat dari berhubungan dekat, teratur, dan hubungan sistematis. Untuk menjadi atau ada, berarti harus terlibat secara sistematis keseluruhan dan sebagian atau hubungan makrokosmok-mikrokosmik. Seperti sebagai pengumpul dan penata, pikiran menempatkan secara konsisten dan merubah ketidak konsistenan. Tugas pikiran adalah untuk menstabilisasi sebuah perpektif yang didasarkan hubungan dari sebagian dan keseluruhan. Dunia pikiran, atau pikiran makrokosmos, memandang alam semesta berdasarkan perspektif keseluruah yang mengatur tempat dan waktu. Fungsi pikiran individu yang baik berusaha keras untuk mengimitasi pikiran semesta, dengan mencoba mendirikan sebauh perspektif yang koheren dalam semesta. Pikiran yang kosisten adalah satu yang dapat menghubungkan bagian waktu, tempat, keadaan, kejadian ke dalam pola yang koheren atau keseluruhan. Ketidakkonsistenan dalan pikiran yang terbatas terjadi ketika pada waktu dan tempat, keadaaan, dan kondisi yang tidak berhubungan dan tidak dapat diurutkan ke dalam sebuah perspektif.

  1. Kajian Aksiologi

Kajian aksiologi merupakan kajian tentang nilai-nilai dari dunia ide. dalam idealis aksiologi, nilai adalah lebih dari pilihan manusia belaka, mereka nyata ada melekat secara intrinsik dalam struktur universal. Pengalaman nilai secara esensial adalah imitasi dari kebaikan yang melekat secara absolut. Seperti keberadaan yang real, nilai-nilai yang absolut, abadi, tidak berubah, dan universal. Kebaikan, kebenaran, dan kecantikan ditemukan dengan struktur universal.

Idealisme, memandang bahwa kehidupan etik dapat direnungkan sebagi suatu kehidupan yang dijalani dalam keharmonisan dengan alam (universe). Jika Diri Absolut dilihat dalam kacamata makrokosmos, maka diri individu manusia dapat diidentifikasi sebagai suatu diri mikrokosmos. Dalam kerangka itu, peran dari individual akan bisa menjadi maksimal mungkin mirip dengan Diri Absolut. Jika Yang Absolut dipandang sebagai hal yang paling akhir dan paling etis dari segala sesuatu, atau sebagai Tuhan yang dirumuskan sebagai yang sempurna sehingga sempurna pula dalam moral, maka lambang perilaku etis penganut idealisme terletak pada “peniruan” diri Absolut. Manusia adalah bermoral jika ia selaras dengan Hukum Moral Universal yang merupakan suatu ekspresi sifat dari Zat Absolut. Berkaitan dengan hal tersebut, Gutek (1974) mengemukakan bahwa pengalaman yang punya nilai didasarkan pada kemampuan untuk meniru Tuhan sebagai sesuatu yang Absolut, sehingga nilai etik itu sendiri merupakan sesuatu yang muttlak, abadi, tidak berubah dan bersifat universal.

  1. Implikasi Idealisme dalam Pendidikan

Implikasi idealis dalam pendidikan dapat ditinjau dari tiga cabang filsafat yaitu ontologi sebagai cabang yang merubah atas teori umum mengenai semua hal, epistemologi yang membahas tentang pengetahuan serta aksiologi yang membahas tentang nilai.

  1. Tujuan Pendidikan

Tujuan utama pendidikan idealis adalah membantu peserta didik untuk mencapai kebaikan, penyatuan dengan absolut. Idealis umumnya sepakat bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya pembangunan stres pikiran tetapi juga mendorong siswa agar fokus pada semua hal dari nilai abadi. Pendidikan Idealis bertujuan pada perubahan menjadi kebaikan, kebenaran, dan keindahan.

  1. Metode Pendidikan

Dalam proses pembelajaran, kata-kata tertulis maupun terucap merupakan metode yang digunakan oleh penganut idealisme. Melalui kata-katalah ide dan gagasan dapat beralih dari suatu akal pikir menuju akal pikir lainnya. Tujuan dan metode ini dapat dirumuskan sebagai penyerapan ide dan gagasan. Metodologi guru di ruang kelas sering kali dilihat dalam bentuk lecturing (penyampaian kuliah) dengan pengertian pengetahuan ditansfer dari guru ke murid. Guru juga menyelenggarakan diskusi kelas sehingga ia dan muridnya dapat menangkap ide-ide dangagasan dari berhagai bacaan dan perkuliahan. Salah satu mtode pengajaran dalam pandangan idealisme adalah penyampaian melalui uraian kata-kata, sehingga materi yang diberikan ke anak didik terkesan verbal dan abstrak. Atas dasar itu, maka idealisme rupanya kurang punya gairah untuk melakukan kajian-kajian yang langsung bersentuhan dengan objek fisik, karena dalam pandangannya kegiatan-kegiatan tersebut berkaitan dengan bayang-bayang inderawi daripada realitas puncak.

  1. Kurikulum

Kurikulum bagi idealisme merupakan organ materi intelektual atau disiplin keilmuan yang bersifat ideal dan konseptual. Sistem konseptual yang bervariasi tersebut menjelaskan dan didasarkan pada manifestasi khusus dari yang Absolut (Gutek, 1974). Oleh sebab itu, kurikulum pendidikan idealis menganggap bahwa budaya manusia adalah hirarki. Pada puncak hirarki itu terdapat disiplin umum seperti filsafat dan teologi. Baik filsafat maupun teologi adalah disiplin-disiplin yang abstrak, melebihi batasan waktu, ruang dan keadaan, membicarakan hal-hal dalam situasi yang lebih luas. Matematika adalah disiplin yang khusus karena melatih kekuatan untuk berhubungan dengan abstraksi-abstraksi. Sejarah dan literatur juga mendapat tempat yang tinggi sejak menjadi sumber moral dan contoh model budaya serta pahlawan. Sesuatu yang rendah dalam hirarki serta rendah dalam prioritas itu adalah ilmu-ilmu alam dan fisika yang berurusan dengan hubungan-hubungan sebab akibat secara partikular. Bahasa menjadi disiplin yang mendasar karena kepentingannya dalam berkomunikasi.

  1. Posisi guru dalam pendidikan

Guru menempati posisi yang sangat krusial dalam proses pendidikan, karena dalam pembelajaran guru yang melayani murid sebagai contoh hidup dari apa yang kelak bisa dicapainya. Guru berada pada posisi yang lebih dekat dengan kebenaran dibandingkan murid, karena ia mernpunyai pengetahuan lebih tentang dunia. Oleh sebab itu, seorang guru harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik. untuk menjalankan fungsinya, maka guru idealis harus memiliki beberapa syarat untuk menjadi guru yang ideal. Menurut J. Donald Butler (dalam gutek,1974) kriteria tersebut adalah guru harus (1) rnewujudkan budaya dan realitas dalam diri anak didik (2) menguasai kepribadian manusia (3) ahli dalam proses pembelajaran (4) bergaul secara wajar dengan anak didik (5) membangkitkan hasrat anak didik untuk belajar (6) sadar bahwa manfaat secara moral dari pengajaran terletak pada tujuan yang dapat menyempurnakan manusia dan (7) mengupayakan lahirnya lagi budaya dari setiap generasi.

  1. Posisi peserta didik dalam Pendidikan

Guru yang menganut paham idealisme biasanya berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya spiritual. Oleh sebab itu bagi guru idealis, peserta didik dipandang sebagai seseorang yang mempunyai potensi untuk tumbuh, baik secara moral maupun kognitif. Oleh karena itu, pendidikan berfungsi untuk mengembangkannya kearah kepribadian yang sempurna.

Kajian Pustaka

Gutek, G.,L. (1974). Philosophical Alternatives in Education. Columbus, Ohio :Charles E.

Merrill Publising Company

Knight, George R.., Issues and Alternatives m Education Philosophy, Terj.Mahmud Arif,

Filsafat Pendidikan, Isu-isu Kontemporer dan Solusi Alternatif, Yogyakarta: Idea

Press: 2004

Tinggalkan Komentar