Aliran Kultural Reconstructionism | Aliran ini merupakan filsafat pendidikan modern, yang sangat berbeda dengan aliran konservatif (esensialisme dan Perennialism) yang oleh reconstructionists dianggap teori yang reflektif sebagai cermin yang mewarisi pola social dan nilai-nilai. Reconstructionists menegaskan bahwa sekolah dan pendidik harus berasal dari kebijakan dan program yang akan membawa tentang reformasi tatanan social. Dikatakan guru, harus secara sengaja menggunakan kekuatannya untuk memimpin kaum muda (belum berpengalaman) pada program-program teknik social dan reformasi.

Reconstructionists budaya maupun social, mengklaim menjadi penerus sejati dari experimentalism John Dewey. Walaupun  dia tidak pernah bergabung dengan barisan rekonstruksionisme Dewey, yang menekankan pentingnya merekonstruksi pengalaman baik pribadi dan social. Dia juga menekankan sifat social pendidikan. Dewey’s menekankan pada reconstruksi pengalaman, reconstructionists menekankan pada rekonstruksi pengalaman social dan menerapkannya pada rekonstruksi warisan budaya.

Meskipun reconstructionists social seperti William O. Stanley dan Theodore Brameld berbeda pada aspek-aspek tertentu dari posisi filosofi mereka, mereka dan reconstructionists setuju atas dasar – dasar seperti:

  1. Semua filsafat termasuk pendidikan, secara budaya didasarkan dan  tumbuh dari pola susunan budaya khusus yang dikondisikan dengan cara hidup pada waktu tertentu ditempat tertentu.
  2. Budaya sebagai proses dinamis, tumbuh dan berubah.
  3. Manusia dapat membentuk dan membentuk kembali (memoles) budayanya sehingga dapat dioptimalkan untuk pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Untuk reconstructionists, filsafat pendidikan merupakan produk dari masa mereka dan kontekstual terhadap lingkungan kebudayaan tertentu, filsafat adalah program hidup dan sosialisasi yang harus menuntun perilaku manusia. Sebagai suatu program tindakan, sebuah filsafat pendidikan sebaiknya langsung mengarahkan manusia kepada cara hidup yang lebih baik.

Reconstructionists sosial melihat zaman sekarang sebagai zaman yang dilanda krisis budaya yang parah yang merupakan konsekuensi dari ketidakmampuan manusia untuk merekonstruksi nilai-nilai dalam hal persyaratan kehidupan modern. Manusia telah memasuki zaman teknologi dan ilmu pengetahuan modern dengan seperangkat nilai-nilai yang berasal dari masa lalu, desa pra-industri. Untuk mengatasi krisis manusia perlu meneliti kebudayaanya dan untuk menemukan di dalamnya unsur-unsur yang layak yang dapat digunakan sebagai instrumen untuk menyelesaikan krisis saat ini. Jika manusia meneliti warisan perencanaan kearah perubahan, dan melaksanakan rencananya, ia akan membangun sebuah tatanan sosial baru. Ini adalah tugas sekolah untuk mendorong penilaian kritis terhadap warisan budaya dan unsur-unsur yang dapat menjadi instrumen dalam rekonstruksi yang dibutuhkan.

KRISIS KEBUDAYAAN

Sebagai posisi filosofis, reconstructionism menegaskan bahwa manusia modern hidup dijaman krisis yang mendalam dan parah yang disebabkan oleh keengganan untuk menghadapi tugas utama rekonstruksi budaya. Gejala-gejala dari krisis budaya misalnya, adanya variasi dalam tingkat ekonomi kehidupan. Ketika beberapa orang hidup di dalam kekayaan, sebagian besar orang ditakdirkan untuk berjuang supaya bertahan hidup ditingkat penghidupan yang berbatasan dengan kemiskinan yang mengerikan. Di Amerika Serikat, banyak orang terutama yang kulit hitam, berbahasa spanyol, dan Appalachian Amerika, menjadi korban decade kemiskinan. Dikancah Internasional, dua pertiga dari orang-orang didunia yang hampir tidak bertahan. Ketika beberapa orang  berpesta, orang lain kelaparan. Di jaman ilmu pengetahuan, rekonstruksionis menganggap kontradiksi antara kekayaan dan kemiskinan yang menjadi residu era pra ilmiah.

Dunia masih dilanda perang. Perang panjang di Vietnam, permusuhan berkelanjutan antara Arab dan Israel, Ketegangan antara Soviet, Cina, dan Amerika adalah gejala masa lalu yang kuno tetapi masih melekat.  Di jaman kehancuran termonuklir, konflik militer dengan ancaman berkembang ke bencana seluruh dunia dan selalu ada resiko yang membahayakan manusia melanjutkan diplanet ini.

Selanjutnya, rekonstruksionis dapat menunjukkan segudang konflik yang belum diselesaikan dan ketegangan serta limbah dari bakat manusia. Masalah seperti ledakan penduduk, pencemaran lingkungan, dan kekerasan sebagai gejala dari krisis jaman ini.

Akar krisis terletak pada kenyataan bahwa teoritis, agama, dan dimensi aksiologis  kehidupan yang terputus dari realitas kondisi kehidupan. Kreatif jenius manusia sendiri telah mengembangkan instrument ilmiah dan teknologi yang dinamis, liberal, dan sumbangan untuk perubahan lebih lanjut. Pada saat yang sama bahwa kekuatan dinamis  IPTEK telah mengubah lingkungan material manusia, kita masih melekat pada masa lampau ideal yang berupaya untuk mempertahankan status qou.

REKONSTRUKSI KEBUDAYAAN

Reconstructionists percaya bahwa masyarakat modern dan kelangsungan hidup manusia modern sangat terkait erat. Untuk memastikan kelangsungan hidup manusia dan untuk menciptakan peradaban korporasi yang lebih memuaskan, manusia harus menjadi teknisi sosial yang mampu merencanakan jalannya perubahan serta mengarahkan instrument dinamis IPTEK untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sebuah pendidikan rekonstruksionis merupakan salah satu yang menumbuhkan:

  1. Rasa kesadaran diskriminasi dalam pengkajian warisan budaya
  2. Komitmen bekerja untuk reformasi social yang disengaja
  3. Kemauan untuk mengembangkan mentalitas perencanaan yang mampu merencanakan jalannya revisi budaya
  4. Pengujian terhadap rencana budaya dengan memberlakukan program reformasi social secara sengaja

Reconstructionists  percaya bahwa semua reformasi social muncul dalam   kondisi kehidupan yang ada. Siswa diharapkan untuk menentunkan masalah utama yang dihadapi manusia. Menyadari rasa diskriminasi berarti siswa mampu mengenali kekuatan dimanis pada saat ini. Ini juga berarti bahwa dia juga mampu mendeteksi keyakinan, kebiasaan, dan lembaga yang menghambat pembaharuan budaya. Nilai-nilai yang mendominasi hanya karena kebiasaan mereka harus dibuang. Budaya moral dan ideology-ideologi jenuh dengan nilai-nilai yang tersisa dari masa prailmiah dan prateknologi. Kefanatikan, kebencian, takhayul, dan kebodohan harus diidentifikasikan dan dibuang.

Meskipun reconstructionists belum ditetapkan dengan tepat dalam hal keinginan mereka menciptakan tatanan masyarakat baru, beberapa dimensinya bisa disebutkan. Hal ini mungkin menjadi satu dimana ilmu akan digunakan sebagai instrument manusiawi, kemungkinan ini menjadi satu yang korporasi dan dimana semua orang bersama – sama berbagi hal-hal baik dalam hidup, kemungkinan untuk menjadi salah satu dalam lingkup internasional.

Counts’: Beranikah Sekolah Membangun Tatanan Sosial Baru?

Sebuah pernyataan yang jelas tentang perlunya keterlibatan pendidikan dalam menyelesaikan masalah social yang dibuat oleh George S. Counts: Beranikah sekolah membangun tatanan social baru? Yang diterbitkan pada 1932. Meskipun Counts tidak mengidentifikasi  secara formal dengan mereka yang menyebut diri mereka reconstructionists social, analisis teori pendidikannya ini bermanfaat dalam menjelaskan beberapa tema yang merupakan perhatian utama dari filsuf reconstructionists kontemporer. George S. counts telah memberikan kontribusi besar terhadap pendidikan Amerika. Sebuah filsuf social dan pendidikan, sebagai salah satu advokat rekonstruksionists, adalah pakar pendidikan Amerika dan Rusia, sebagai Presiden Federasi Guru Amerika 1939 – 1942, sebagai anggota Komisi Kebijakan Pendidikan 1936 – 1942, dan sebagai guru pendidik di universitas Washington, Chicago, Yale, dan Universitas Guru Colombia, pengaruh beliau pada pendidikan Amerika dan bahwa beliau  seorang cendikiawan dan kritikus yang sering berapi-api. Beberapa bukunya banyak membahas prinsip pendidikan, pendidikan menengah dan industrialism, jalan menuju budaya Amerika, Fondasi social pendidikan, Prospek demokrasi Amerika, Pendidikan dan janji pada Amerika, Pendidikan di peradaban Amerika, dan pendidikan dan yayasan kebebasan manusia. Pesannya kepada guru Amerika selama tahun 1930an sering diceritakan dalam sejarah pendidikan Amerika. Di tahun 1932 Ia meminta guru pada pertanyaan yang belum terjawab. “Berani sekolah membangun tatanan social baru?” pertanyaannya menciptakan gejolak yang masih terlihat bagi mereka yang berkomitmen untuk teori dan praktek pendidikan di sekolah-sekolah Amerika Serikat.

Selama era depresi suram dari tahun 1930an banyak pendidik  merasa bahwa sekolah-sekolah Amerika telah gagal untuk mendidik warga Negara yang siap untuk memahami dan memecahkan masalah pengangguran besar-besaran dan keruntuhan ekonomi.  Pendidik rekonstruksionis percaya bahwa sekolah seharusnya tidak hanya mengirim warisan budaya dan mengembangkan kebiasaan intelektual, ketrampilan, dan pengetahuan, tapi juga harus menata kembali tatanan social  sehubungan dengan perubahan kebutuhan kehidupan modern.  Antara mimbar dan gema pemberitahuan dengan perdebatan fungsi sekolah. Tradisionalis melihat sekolah sebagai instrument pelestarian budaya atau sebagai lembaga yang murni intelektual. Sebaliknya, rekonstruksionis menyatakan bahwa pendidik bertanggung jawab untuk membangun pola – pola social baru  yang akan menyatukan peradaban lama dan baru menjadi sintesis budaya yang layak.

Pada tahun 1960 sampai awal 1970an, arus ketidakpuasan social diarahkan pada kekuatan Sekolah-sekolah public Amerika, administrator, dan guru-guru mereka. Ketidakpuasan ini tidak diarahkan semata-mata terhadap system pendidikan tetapi merupakan bagian dari ketidakpuasan yang lebih besar dengan kesetaraan kehidupan Amerika. Secara  khusus masalah-masalah rumit tentang kemiskinan, perampasan budaya, dan diskriminasi rasial (warna kulit) yang sudah 3 tahun dibicarakan namun belum terpecahkan. Beberapa masalah kemiskinan dan perampasan dan beberapa sumber ketidakpuasan dapat ditelusuri dengan situasi social ekonomi Amerika. ke American’s social dan situasi ekonomi. Dalam hal ini, perang terhadap kemiskinan oleh presiden Johnson’s diingatkan pada pelantikan kedua  presiden Roosevelt’s pada 1937 dan berkata:

Di Negara  ini saya melihat puluhan juta warganya- merupakan bagian penting dari seluruh populasinya yang pada saat ini  sebagian besar tidak diberikan sesuatu yang standar yang sangat terendah hari ini yang disebut dengan kebutuhanan hidup. Saya melihat jutaan keluarga berusaha untuk hidup dengan pendapatan begitu minim bahwa menjemukan bencana keluarga menutupi mereka hari demi hari…Saya melihat sepertiga bangsa yang memiliki  tempat tinggl buruk, pakaian buruk, dan gizi buruk.

Argumen Counts menjadi hidup kembali. Masalah kemiskinan dan diskriminasi belum terpecahkan setidaknya tidak untuk semua Amerika- yang kurang berpendidikan, kurang terlatih, dan kurang terampil. Secara budaya dan teknis tertinggal, permasalahan kelangsungan hidup ekonomi tidak pernah benar-benaar terselesaikan, meskipun kemakmuran pinggiran kota, penekanan pada program-program untuk yang berbakat, dan pendekatan usia pendidikan. Janji kehidupaan Amerika masih kabur oleh kompleksitas, kebingungan, dan disintegrasi masyarakat, yang walaupun besar, tetapi belum menjadi masyarakat yang besar.

Ketidakpuasan kontemporer tampaknya telah menghidupkan kembali reconstructionism pendidikan terhadap tingkat Laporan kepada Dewan Pendidikan, Kota Chicago, oleh Majelis Penasehat Integrasi Sekolah Umum, tanggal maret 31,1964, berbunyi:

Individu tidak hidup secara terpisah dari masyarakat, dan sementara dewan sekolah untuk kesejahteraan harus memberikan kontribusi terhadap kekuatan dan integritas tatanan social lingkungan, kota, Negara, dan bangsa.

Dengan memberikan efek pada sikap dan tindakan, kondisi pengetahuan, kemampuan rasional, dan tingkat keterampilan, itu pasti menentukan karakter masyarakat, integritas politik, stabilitas ekonomi dan kemakmuran, tujuan solidaritas, dan kekuatan umum moral. Tidak kalah penting, sekolah adalah penentu utama kualitas dan karakter budaya dan masyarakat.  Dengan memberikan efek pada sikap dan tindakan, kondisi pengetahuan, kemampuan rasional, dan tingkat keterampilan, itu pasti menentukan karakter masyarakat, integritas politik, stabilitas ekonomi dan kemakmuran, tujuan solidaritas, dan kekuatan umum moral. Tidak kalah penting, sekolah adalah penentu utama kualitas dan karakter budaya dan masyarakat. Setelah itu, lebih dari dunia di mana generasi sekarang harus hidup dan ke mana generasi mendatang akan dilahirkan. Apa yang terjadi di ruang sekolah dan laboratorium sangat mempengaruhi kualitas seluruh kehidupan pribadi dan sosial, hal-hal kehidupan manusia, nilai-nilai yang mereka hargai, dan akhir upaya mereka. Hal ini dapat menjadi perbedaan antara kehidupan yang penuh dan bermakna dengan kehidupan yang kosong dan tidak berarti.

Dalam beberapa hal yang sama, hasil survey Havighurst, sekolah umum Chicago memberikan pernyataan dalam hal pendidikan perkotaan:

Sekolah umum mungkin aktif atau pasif dalam situasi ini. Mereka akan pasif jika filosofi “empat dinding “ sekolah berlaku. Dalam kasus ini sekolah akan lakukan sebagaimana baik pekerjaan yang mungkin untuk semua jenis murid di sekolah, dan akan tetap menjauh dari keterlibatan langsung dengan program pembaharuan masyarakat, jika mereka pasif dan mengikuti prinsip “empat dinding”upaya pembaharuan dimasyarakat kemungkinan akan gagal. Jika sekolah umum yang aktif, mereka yang akan mengadopsi filosofi sekolah “masyarakat perkotaan”. Mereka akan berkerja sama secara aktif dalam upaya mencapai pembaharuan social dan perkotaan di Chicago oleh lembaga-lembaga public dan swasta. Tampaknya rekonstruksionis ini sekali lagi mengajukan pertanyaan “beranikah sekolah membangun tatanan social baru?”

PENDIDIKAN UNTUK JAMAN KRISIS

Counts menyatakan, konflik yang besar dan krisis dari abad ke 20 adalah gejala dari era transisi mendalam dan perubahan yang cepat. Disintegrasi budaya akut terjadi ketika Amerika bergerak antara dua pola social yang berbeda. Yang lama, agrarian, komunitas lingkungan yang terlantar akibat perubahan cepat ke mode kehidupan yang sangat kompleks, industry, ilmiah, dan teknologi. Dari sebuah agregasi longgar yang relative mandiri pada rumah tangga pedesaan dan lingkungan, bangsa, dibawah dorongan industrialisasi, berkembang menjadi perkumpulan massal yang ditandai dengan masa diferensiasi structural dan fungsional. Meskipun perubahan yang cepat tampaknya terutama pada materi; social, moral, politik, ekonomi, agama, dan estetika kehidupan juga terpengaruh.

Perubahan tidak secara intrinsic membangkitkan krisis. Sebaliknya, krisis terjadi saat manusia tidak siap untuk menanggulangi dengan aturan dan menyelaraskan proses perubahan. Counts kwatir bahwa system pendidikan, di semua tingkat gagal untuk membekali manusia baik kognitif dan perilaku, untuk menghadapi perubahan yang terjadi diarea budaya atau kualitatif kehidupan. Krisis ini lebih rumit karena terjadi perubahan multilateral. Perubahan dalam suatu daerah mempercepat perubahan dan krisis majemuk dalam dimensi lain. Karena kesulitan manusia dalam merekonstruksi lingkungannya secara rasional dan efisien, kekacauan, dan ketidakmampuan terhadap karakteristik periode penyesuaian yang mendalam.

Analisis Counts menitik beratkan pada teori keterlambatan budaya. Keterlambatan budaya terjadi saat daya cipta praktis manusia mendahului kesadaran moral dan organisasi socialnya. Krisis dalam dipengaturan kelembagaan dari seluruh ketidakmampuan dalam menyelesaikan diri antara ide-ide warisan dan kebiasaan, disatu sisi dan bahan-bahan inovasi teknologi  disisi lain.

Salah satu yang paling serius adalah dislokasi ekonomi dimana mewarisi nilai-nilai yang terkait dengan warisan individualism ekonomi yang menghambat perkembangan perencanaan, bekerjasama, dan koordinasi tatanan social ekonomi. Rekonstruksionisme membedakan masyarakat perencanaan dari masyarakat yang terencana. Di masyarakat perencanaan, desain social tidak pernah benar-benar selesai tetapi terus menerus dirombak oleh kecerdasan kreatif manusia.

Saat ini upaya pembaharuan masyarakat perkotaan dan masyarakat terpadu sering diblokir keengganan untuk merekonstruksi yang diwariskan dalam bentuk kelembagaan dan gagasan, seperti pola lingkungan sekolah atau konsep dari masyarakat perkotaan itu sendiri. Di dunia internasional penemuan dan pengembangan senjata termonuklir telah mempengaruhi perilaku ekonomi, politik, dan bahkan perilaku psikologis. Namun pewarisan konsep kedaulatan nasoinal telah menghambat control perkembangan atas kekuatan instrument baru ini. Meskipun system senjata nuklir memiliki kemampuan merusak yang besar, control yang memadai tetap akan dikembangkan.

Counts menyatakan, masalah krusial pendidikan adalah kebutuhan untuk merumuskan suatu filosofi pendidikan yang dapat mempersiapkan pendidik untuk menghadapi krisis keterlambatan social dan budaya dengan ide-ide rekonstruksi, keyakinan, dan nilai-nilai dalam kaitannya dengan perubahan kondisi. Beranikah sekolah membangun tatanan sisoal baru? Tantangan Counts:

Saya secara konsekwen ingin melihat upaya untuk mengatasi dengan masalah penciptaan sebuah tradisi yang berakar di tanah Amerika, selaras dengan semangat zaman, mengakui fakta-fakta industrialism, memunculkan impuls yang paling mendalam dari rakyat kita, dan memperhitungkan kekuatan baru masyarakat dunia.

Tugas pendidikan Amerika meliputi

  1. Rekonstruksi fondasi secara teoritis yang berdasarkan warisan budaya Amerika
  2. Pengembangan praktek eksperimental dari praktek sekolah yang akan mengungkinkan manusia untuk menangani masalah krisis budaya dan disintegrasi social yang akut.

Karena pendidikan selalu relative dan khususnya untuk suatu masyarakat tertentu, Pendidikan Amerika merupakan produk warisan yang unik. Pendidikan Amerika untuk melayani kebutuhan social yang luas, kebutuhan ini harus diuji dengan mengingat tradisi warisan. Maka tradisi ini dapat direkonstruksi dalam pandangan masalah social. Dalam fondasi pendidikan social, Counts memulai dengan pernyataan:

Riwayat sejarah menunjukan bahwa pendidikan selalu menunjukan fungsi dari waktu, tempat, dan keadaan. Dalam filosofi dasar, tujuan social, dan program pengajaran, pasti direfleksikan dalam proporsi, pengalaman, kondisi, dan harapan yang berbeda-beda, dan aspirasi dari orang-orang tertentu atau kelompok budaya pada waktu tertentu dalam sejarah…..

Pendidikan secara keseluruhan selalu relative, setidaknya dalam bagian dasar, hal-hal nyata dan situasi social berkembang.

Sebuah konsep yang layak budaya dari warisan Amerika di abad 20 harus meletakan pada dua kondisi penting yakni:

  1. Penegasan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi demokratis
  2. Pengakuan realitas dominan masyarakat kontemporer munculnya peradaban industri

Setelah 2 kondisi ini, pendidik Amerika membuat filsafat pendidikan dan yang mengagungkan pekerjaan social yang bermanfaat dan mungkin mencoba rekonstruksi social mendasar. Filosofi ini harus berdasarkan pada konsep rasional perilaku kerja sama secara esensial di masyarakat. Sebuah sintesis dari unsur-unsur budaya yang layak terhadap warisan demokratis dan membutuhkan teknologi ilmiah akan memanfaatkan kekuatan ilmiah dan teknologi untuk realisasi tujuan demokrasi yang akan menjaga integritas individu dan mencapai control yang efisiensi dan populer dari mekanisme social dan ekonomi. Tenaga kerja, penghasilan, property, kenyamanan, rekreasi, sex, keluarga, pemerintah, opini public, ras, kebangsaan, perang, perdamaian, seni, dan estetika yang sesuai dengan mata pelajaran pada teori dan praktek pendidikan.

Ketika dia menantang para pendidik untuk membuat filosofi budaya pendidikan yang cocok untuk kehidupan Amerika modern, Counts juga mendesak tema untuk memikul tanggung jawab dan beban terhadap”kenegarawan pendidikan”. Counts, mendefinisikan negarawanan sebagai pemimpin peradaban, pendukung secara vital dan bermakna, seorang pemikir, dan inisiator dari kebijakan yang luas. Sudah terlalu lama,  pendidikan guru telah berkosentrasi pada cara mekanik dan mengabaikan masalah-masalah utama social dan ekonomi yang dihadapi masyarakat modern. Sebagai Pegawai Negeri, pendidik berkewajiban untuk mendorong kemungkinan pembangunan terbesar terhadap kapasitas warga. Dalam asumsi tanggung jawab untuk merumuskan program dan filosofi pendidikan, negarawan pendidikan menyediakan kepemimpinan nasional. Tanggung jawab ini melibatkan penentuan pembuatan kebijakan berdasarkan nilai-nilai etika dan estetika muncul sehubungan dengan anugerah alam, sumber daya teknologi, warisan budaya, dan kecenderungan social.

Negarawan pendidikan Counts adalah mengasumsikan tugas merekonstruksi warisan budaya, setelah warisan budaya ini direkonstruksi dia membuat filosofi  dan program pendidikan Amerika. Seperti sebuah warisan budaya yang direkonstruksi akan mencakup 2 tema dasar; ethic demokratik dan kemunculan teknlogi. Konsepsi Counts tentang ethic demokratik jelas dan unik terkait dengan pengalaman Amerika. Ini mengagungkan batasan dan demokrasi kerakyaratan terkait dengan Jakson, progresivisme dari Wilson, liberalism dari Roosevelt, dan upaya perencanaan masyarakat seperti yang ditemukan dalam New-Freedom, New Deal, experimentalism dari John Dewey, dan sejarah relativisme dan interpretasi ekonomi Charles Beard.  Penekanan di sisi Progressive-Liberal tradisi Amerika, Counts menolak cita-cita yang lebih konservatif dari Hamilton, Darwinisme social, individualism ekonomi, dan kompetitif kokoh kapitalisme.

Demokrasi Amerika tidak hanya ekspresi politik tetapi harus terus menjadi produk dari kombinasi kekuatan-kekuatan ekonomi, social, moral, dan estetika yang beroperasi dalam warisan budaya. Demokrasi harus menembus semua bidang kehidupan; melainkan bertumpu pada basis social yang egaliter. Hanya dalam masyarakat demokrasi yang setara dapat berkembang dan tumbuh subur. Setiap upaya ekonomi, social, atau politik untuk menumbangkan fondasi egaliter demokrasi Amerika harus memperoleh oposisi yang kuat dari pendukung warisan budaya demokrasi. Ketimpangan peluang yang disebabkan oleh kekayaan, ras, warna kulit atau agama menumbangkan etika demokrasi. Karena kehidupan social masyarakat industry yang sangat terorganisir, pelestarian demokrasi terletak pada kapasitas masyarakat Amerika untuk merekonstruksi kehidupan institusional yang harmoni dengan munculnya peradaban teknologi. Beranikah sekolah membangun tatanan social baru? Counts mengatakan demokrasi yang direkonstruksi harus:

Memperlihatkan sebuah tawaran yang memperhatikan terhadap yang lemah lembut, bodoh, dan tidak beruntung; kemuliaan dalam setiap kejayaan manusia dalam dorongan abadi untuk mngekspresikan dirinya dan membuat dunia lebih layak dihuni; menempatkan beban social yang lebih berat dan kecenderungan yang memberatkan, meninggikan kinerja manusia terhadap karya dan pikiran sebagai pencipta dari semua kekayaan dan budaya.

Sebuah Filosofi dan program yang direkonstruksi terhadap pendidikan Amerika secara langsung berkaitan dengan munculnya peradaban industry, produk ilmu pengetahuan dan teknologi. Aplikasi ilmu pengetahuan terhadap mode dan teknik kehidupan dalam  menciptakan kekuatan teknologi kultural baru yaitu seni dalam menerapkan llmu pengetahuan untuk berbagi bagian ekonomi manusia. Teknologi merupakan alat praktis dan terarah, factor kreatif evolusi budaya, yang ditandai dengan penekanan pada hubungan yang akurat, teratur dan jelas. Sedangkan metode eksperimental yang menyangkut aplikasi praktis dari pengetahuan, teknologi tidak terbatas semata-mata untuk produk materi, penemuan dan temuan. Hal ini juga sebuah proses, sebuah metode, dari pemecahan masalah dan melihat dunia.

Karena teknologi diterapkan dalam ilmu pengetahuan untuk hidup, peran ilmu pengetahuan dalam filosofi pendidikan yang direkonstruksi harus diperiksa, Counts melihat ilmu pengetahuan sebagai instrument manusia yang paling akurat sebagai suatu metode pemecahan masalah, sebagai metode kecerdasan, ilmu pengetahuan menghasilkan keteraturan dan keakuratan pengetahuan, memberikan kinerja, control, dan kebebasan, ilmupengetahuan  adalah kekuatan  tunggal terbesar yang bergerak dan membentuk lingkungan manusia. Pendefinisian ilmu sebagai sebuah metode akal sehat yang terorganisir dan kritis, Counts menguraikan metode ini:

  1. Metode ilmiah dimulai dengan hipotesis yang tumbuh dari pengalaman pengetahuan dan pimikiran sebelumnya
  2. Hipotesis yang diuji oleh proses pengamatan yang akurat dan memadai dengan menggunakan instrument paling tepat
  3. Data yang disusun dan hipotesis yang terbukti atau ditolak berdasarkan verifikasi empiris dan public.

Dalam mengomentari potensi ilmu sebagai instrument budaya, Counts meneliti karakteristik teknologi penerapan ilmu pengetahuan untuk metode dan teknik kehidupan.  Teknologi adalah rasional, fungsional, penuh perencanaan, memusat, dinamis, dan efisien. Rasionalitas teknologi berada pada kebebasan dari tradisi. Ketika diberi kebebasan, itu yang menghancurkan hambatan tradisional untuk berpikir. Merangkul suatu ide yang kompleks secara langsung terhadap ide-ide yang relevan dan metode yang melayani keperluan manusia, teknologi mengamati, bertanya, dan akurat dan matematis menjelaskan. Sebagaimana penalaran kuantitatif menguji hasil dari teknologi dan memprediksi konsekwensi mereka, kekebasan manusia meningkatkan tindakan. Seperti menempati area yang lebih besar dari kehidupan, rasionalitas ilmu pengetahuan yang melekat akan membuat terobosan operasional yang jauh ke fungsi social lainnya.

Karena itu adalah fungsional sepenuhnya abstraksi, teknologi pada dasarnya bersifat berguna yang ditunjukan dalam penerapan hasil temuannya kepada dunia fisik manusia. Karena penuh perencanaan teknologi membutuhkan tujuan yang diformulasi secara cermat, penentuan arah, dan konsep dari rencana tindakan sebelum mengerjakan. Rencana operasional harus pasti dan berdasarkan pengetahuan positip dari tujuan untuk direalisasikan. Mode teknologi  menentang sebuah subjektivitas kata hati dan berubah-ubah. Zaman teknologi itu membutuhkan suatu perencanaan dan bekerja sama dengan masyarakat.

Teknologi terpusat. Didominasi oleh kebutuhan desain rasional, masuk ke dalam daerah sekitar kehidupan pernah ditatah oleh kegiatan yang serampangan dan kebetulan.  Menggambarkan prosedur yang kacau dalam merangkul pesanan, teknologi menyatukan dan mengatur operasi yang berdekatan sekitar inti dari perencanaan rasional. Dengan aksi dan eksplorasi, teknologi bersifat dinamis. Satu penemuan atau temuan para inisiat sebagai gugus yang semakin besar penemuan dan temuan baru yang tak berujung.  Percepatan perubahan yang diprakarsai oleh inovasi baru dan penemuan tidak bertanggung dari bahan; tetapi telah menyebar ke budaya non material dan selanjutnya menyebabkan perubahan ekonomi, politik, moral, dan sosial. Karakter dinamika teknologi telah mempercepat perubahan social.

Efisiensi adalah karakteristik teknologi yang paling mudah menyebar. Proses teknologi mencapai akhir kemungkinan terbesar dengan pengeluaran material dan energy yang sedikit. Berasal dalam mesin, perluasan efisiensi yang ideal pertama terhadap kinerja manusia dan kemudian seluruh masyarakat. Teknologi menempatkan premium kompetensi professional; karena tanpa pengetahuan yang spesialis, mekanisme produktif seluruh mungkin jatuh ke gangguan seluruh mekanisme produktif jatuh ke dalam kekacauan. Sebagai kemajuan teknologi, hasil pendapat tidak ahli terhadap kecerdasan yang terlatih.

Tempat menempatkan kekuatan besar teknologi di tangan manusia. Seperti ilmu pengetahuan, teknologi adalah instrument netral yang dapat melayani manusiawi dan memperkaya tujuan atau menjadi alat eksploitasi yang kejam. Dizaman nuklir itu adalah sebuah instrument pembebasan atau pembinasaan. Instrumen yang kuat ini bukan hanya untuk penambahan peradaban belaka. Budaya bukanlah sebuah penggabungan dari discrate/pemisahan, item yang terpisah melainkan lebih merupakan system hubungan yang merespon tekanan interior dan eksterior, ketegangan dan terus mengubah pola social. Jaman teknologi membutuhkan rekonstruksi terus menerus dari ekonomi, masyarakat, pendidikan, pemerintah, dan moral atau peradaban.

Penelitian Counts tentang  peradaban Amerika menegaskan 2 kegentingan penting: suatu kesamarataan etika demokratis dan munculnya suatu masyarakat ilmiah-teknologi- industrialisasi. Kedua unsur ketegangan dalam sintesis rekonstruksi telah menjadi dasar filosofi peradaban untuk pendidikan Amerika. Counts menolak untuk menetapkan sebelumnya kontur dari tatanan social baru yang diperlukan. Dari pada kaku merumuskan bentuk diinginkan dari demokrasi masa depan. Ia lebih suka bahwa perencanaan social harus terbuka dan eksperimental.Rakyat Amerika akan membentuk nasib sendiri, dengan menggunakan temperamen demokrasi elastis mereka sendiri. Tidak sabar dengan otoritas adat, Amerika dalam gerakan kearah barat mereka telah mengubah hutan belantara menjadi bermusuhan dengan lingkungan yang ramah. Amerika siap untuk percobaan, untuk menilai konsekwensi, dan berkompromi. Counts menulis bahwa perjalanan demokrasi Amerika tergantung paada kemampuan rakyat:

Untuk belajar dari pengalaman, untuk mendefenisikan masalah, untuk menyusun suatu program tindakan, untuk menemukan, menilai, dan susunan tersebut laten, sumber daya aktual dan potensial dari demokrasi Amerika.

SEKOLAH DAN REKONSTRUKSI BUDAYA

Dalam merumuskan filosofi pendidikan yang layak, filsuf reconstructionist memberikan perhatian kepada sekolah sebagai lembaga budaya. Namun, hati-hati dilakukan agar potensi sekolah-sekolah sebagai instrument pada rekonstruksi tidak dibuat-buat. Itu diperlukan untuk membedakan antara pendidikan dan sekolah. Pendidikan lebih informal dan mengacu pada proses enkulturasi (pembudayaan) total. Sekolah merupakan lembaga social khusus yang mana didirikan untuk membawa anak ke dalam kehidupan kelompok melalui penanaman secara sengaja ketrampilan, pengetahuan, dan nilai-nilai yang diinginkan.

Counts percaya bahwa Amerika tidak menyadari perbedaan antara pendidikan dan sekolah. Mereka telah mengidentifikasi sekolah dengan kemajuan dan pendidikan dianggap sebagai solusi yang tidak kunjung padam untuk semua masalah. Namun, krisis dunia menjadi-jadi  selama periode ekspansi terbesar sekolah. Masa pengembangan sekolah terbesar. Bukan mengarahkan perubahan social, sekolah didorong oleh kekuatan eksternal tanpa tujuan. Belum matang keyakinan Amerika di kekuatan sekolah yang berasal dari gagasan pendidikan sebagai kualitas murni dan independen yang terisolasi dari konflik social, politik, dan ekonomi. Sikap kritis ini menghambat pemeriksaan serius pendidikan moral dan social meskipun Amerika mengaitkan pendidikan semata-mata dengan demokrasi, Sejarah telah menunjukkaan bahwa pendidikan yang sesuai ada bagi setiap masyarakat atau peradaban. Pada abad ke-20, kaum totaliter telah terbukti sangat mahir menggunakan pendidikan untuk mempromosikan ideology tertentu mereka. Pendidikan Jerman di bawah Nazi dan pendidikan Soviet berdasarkan komunis menunjukkan bahwa sekolah dapat melayani banyak ahli.

Beberapa pendidik termasuk beberapa dari kaum progresif, keliru percayai bahwa sekolah mampu merekonstruksi masyarakat tanpa dukungan lembaga social lainnya, karena sekolah hanya salah satu dari beberapa lembaga sosial pendidikan, pendidik harus selalu sadar akan fungsi dan struktur perubahan masyarakat yang menentukan tugasnya. Sebuah teori pendidikan didasarkan hanya pada sekolah tidak memiliki realitas dan vitalitas. Counts merasa bahwa hanya satu dari banyak lembaga budaya. Ketika ia meminta para pendidik untuk membangun tatanan social baru, Counts mendesak pendidik untuk meneliti budaya dan hubungan dengan gaya kekuatan-kekuatan social dan kelompok-kelompok yang mencontohkan etika demokratik dengan mengingat munculnya trend teknologi. Meskipun pendidik tidak bisa mereformasi masyarakat tanpa dukungan orang lain, “Negarawan Pendidikan” dapat memberikan kepemimpinan dalam membangun masyarakat baru. Sedangkan ini adalah jenis keterbatasan organisasi pendidikan, hal itu berbeda dari teori reflektif yang menyatakan bahwa sekolah harus mencerminkan masyarakat. Refleksi hanya berarti bahwa kelompok-kelompok ekonomi dan tekanan yang kuat dapat menguasai sekolah untuk kepentingan khusus mereka sendiri. Teori pendidikan Counts juga menentang “filosofi empat dinding sekolah” yang menegaskan bahwa pendidik harus peduli hanya dengan sekolah dan harus mengabaikan isu-isu social.

Dalam menguraikan program pendidikan yang demokratis, Counts dititikberatkan 2 tujuan utama yakni:

  1. Pengembangan kebiasaan demokratis, kecenderungan, dan loyalitas.
  2. Akuisisi (perolehan) pengetahuan dan wawasan bagi partisipasi cerdas di masyarakat demokratis.

Pendidikan masyarakat adalah untuk pengembangan rasa kompetensi dan kecukupan pada individu yang:

  1. Kesetiaan atas kesetaraan manusia
  2. Persaudaraan, martabat dan layak
  3. Loyalitas atas pembahasan metodologi demokratis, kritik, dan keputusan
  4. Keutuhan dan roh ilmiah
  5. Menghormati talent, pelatihan, dan karakter

Counts diserang doktrin ketidakberpihakan pendidikan dan netralitas yang menuntut objektivitas guru yang penuh. Semua pendidikan berkomitmen untuk keyakinan dan nilai-nilai tertentu. Beberapa kriteria yang diperlukan untuk membantu pemilihan dan penolakan tujuan pendidikan, subyek, bahan, dan metode.

Pada titik tidak ada sekolah yang dapat mengasumsikan netralitas lengkap dan pada saat yang sama menjadi kenyataan bersifat konkret. Counts menekankan bahwa setiap program pendidikan bias karena memiliki bentuk dan substansi, pola dan mengindari nilai dan loyalitas. Untuk setiap masyarakat, adanya pendidikan yang sesuai dan khas. Kewajiban utama dari pendidik Amerika adalah mengklarifikasi asumsi-asumsi yang mendasar dan prinsip-prinsip yang memberikan komitmen dan terarah ke sekolah.

Karena setiap generasi baru di bawah ke partisipasi social menguasai keterampilan masyarakat, pengetahuan dan sikap. Tanpa transmisi (penyebaran) dan pelestarian ini, masyarakat tertentu binasa. Pelepasan energy manusia terjadi, bukan dengan membebaskan individu dari tradisi tetapi dengan memperkenalkannya dia pada tradisi yang vital dan berkembang. Counts mengatakan:

Oleh karena itu pertanyaan yang sebenarnya, bukan apakah tradisi tertentu akan diterapkan oleh niat atau keadaan pada generation yang akan datang (kita dapat menguji keyakinan bahwa ini dilakukan, melainkan tradisi partikuler apa yang akan diberlakukan. Untuk menolak menghadapi tugas seleksi atau penciptaan tradisi ini adalah mengindari tanggung jawab pendidikan krusial, sulit dan penting.  Dalam menegaskan nilai-nilai demokratis dan ekualitarian Counts mendorong pendidik untuk menekankan bidang warisan budaya yang mendorong berbagi pengalaman atau kegiatan kerjasama. Kurikulum harus mencakup bidang pengetahuan sosial yang luas dan teknologi harus menyelidiki masalah nyata dari kehidupan modern. Sebuah generasi Amerika yang aktif dapat berupaya untuk memecahkan masalah merekonstruksi demokrasi dalam mengingat kebutuhan masyarakat teknologi yang diperlukan.

Dalam mendorong komitmen para pendidik untuk pembinaan nilai-nilai demokrasi, Counts menentang baik tradisionalis maupun child-oriented progresif. Penekanan tradisionalis pada pendidikan sepenuhnya intelektual dan tak tersentuh oleh masalah sosial. Bagi mereka, sekolah adalah untuk menumbuhkan kebiasaan intelektual, keterampilan, dan pengetahuan. Dalam mengejar murni pengetahuan sepenuhnya, sekolah tidak terlibat dalam kontroversi ekonomi, politik, dan sosial.

Selain menentang tradisionalisme pendidikan, Counts mempermasalahkan child-oriented pendidikan progresif. Dia menyerang gagasan dari beberapa progresif yang mendorong kemungkinan sebuah sekolah benar-benar netral di mana anak tersebut tidak pernah dikenakan tetapi benar-benar bebas untuk mengembangkan sesuai dengan sifat dan kepentingannya sendiri. Counts menyelenggarakan hanya sebagai anggota masyarakat, berpartisipasi dalam budaya melalui penggunaan instrumen budaya, anak dapat tumbuh melalui pengalaman. Sebagai budaya partisipan, anak dikenakan pada budaya dan pada gilirannya memberlakukan pada budaya.

KESIMPULAN

Penting mempertimbangkan pendidikan untuk menjadi bentuk tertinggi kenegarawanan. Proses pendidikan membutuhkan transmisi (penyebaran) pada sebuah warisan budaya yang viable (yang layak) atas anggota masyarakat yang belum matang. Kenegarawanan di pendidikan tersebut melibatkan perumusan sebuah warisan dalam hal filsafat dan program. Seperti pada kebutuhan filosofi pendidikan harus terdiri dari unsur demokrasi dan teknologi. Unsur budaya ini harus sengaja diberlakukan oleh sekolah. Sebagaimana pendidikan adalah proses rekonstruksi, tugas formulasi tidak pernah selesai dan tidak akan pernah selesai. Tetapi merupakan bagian dari proses eksperimental sesuatu yang berakhir terbuka dimana terus berlanjut selama perubahan lingkungan manusia. Karena sejarah manusia adalah record (merekam/mencatat) perubahan atas waktu, kehidupan manusia di bumi ini yang juga merupakan record pada kelangsungan pengalaman rekonstruksi. Sebagaiamana tugas tersebut, sekolah selalu membangun tatanan social yang baru

Tinggalkan Komentar

error: Dilarang copy paste