Belajar dan Pembelajaran di Sekolah

Pembelajaran di Abad 21

Pembelajaran di abad 21 tidak sama dengan pembelajaran masa lampau. Di abad 21, Pembelajaran dituntut dengan berbagai standart yang harus di capai dan dipertanggungjawabkan, keragaman anak didik yang meningkat, serta perubahan yang sangat siginfikan dalam hal teknologi dan globalisasi.

Pendidikan yang Berbasis Standar Akuntabilitas

Selama dua dekade terakhir, sistem baru tentang pendidikan bermunculan. Disebut pendidikan yang berstandar jika sistem bertumpu pada: (1) telah disepakati seperangkat standar yang dirancang sebagai pedoman pengajaran dan pembelajaran; (2) setiap anak harus mencapai standar yang telah di tetapkan; (3) guru dapat dikatakan memenuhi standar jika dapat memberikan bukti kongkrit keberhasilan yang telah di capai dalam proses pembelajaran; (4) pendidikn harus mengadakan pembelajaran yang dapat dipertanggung jawabkan dengan prestasi akademik anak didik yang diukur dengan standar tes.

ini berkembang sejak tahun 1980 sampai 1990, para pembuat kebijakan yakin bahwa banyak sekolah yang gagal dikarenakan kurangnya standar mutu pendidikan eksternal. Di tahun 1983 Komisi Nasional dalam bidang Pendidikan Pemerintah Reagan menawarkan beberapa rekomendasi tentang beberapa standar, antara lain: (1) meningkatkan persyaratan khusus untuk lulus SMA; (2) Menetapkan standar yang lebih tinggi dan lebih ketat di semua tingkat pendidikan; dan (3) menetapkan penggunaan tes standar untuk mengukur prestasi anak didik.

Satu dekade kemudia dibawah kepemerintahan yang berbeda, Komisi Nasional dalam bidang Pendidikan membuat kongres dan membuat undang-undang bahwa di tahun 2000 hal yang harus dicapai dalam bidang pendidikan yaitu: (1) semua anak didik di Amerika harus mengenyam pendidikan; (2) Tingkat kelulusan SMA harus meningkat mininal 90 %; (3) anak didik di Amerika harus berprestasi di bidang matematika dan Sains.

Perbedaan yang Beraneka Ragam

               Dewasa ini, perbedaan semakin bermunculan dan sangat beragam. Data di Amerika antara tahun 1970-2005 proporsi anak didik minoritas di sekolah meningkat dari 20 % menjadi 45 %. Jumlah anak didik yang tidak berbahasa Inggris sebagai bahasa pertama juga meningkat sekitar 20 % dari yang berbahasa Spanyol, Arab, China, Rusia, dan Tagalog. 5 – 8 % persen anak cacat juga masuk ke sekolah umum.

Namun, faktor keragaman yang paling penting adalah hal yang berhubungan dengan kemiskinan. Lebih rinci Bolder menjelaskan kesenajangan ekonomi yang ada menimbulkan: (1) terjadi kesenjangan antara golongan hitam dan putih tentang Perbedaan kesehatan sebesar 25 %; (2)  terjadi kesenjangan dalam hal mobilitas perumahan sebesar 14 %; dan (3) terjadi kesenjangan pendapatan sebanyak 80 % dari keluarga yang berpenghasilan rendah dibanding dengan yang berpenghasilan menengah. (Institusi Kebijakan Ekonomi. 2008)

Peningkatan keragaman di ruang kelas memiliki implikasi yang signifikan bagi guru. Pertama, sebagai guru kita dituntut untuk mengatasi perbedaan dengan menyediakan instruksi yang berbeda. Kita dituntut untuk membuat kurikulum yang dapat memenuhi setiap kebutuhan anak didik dan menjamin ukuran keberhasilan akademik dan sosial anak didik. Kedua, dibutuhkan kerjasama dengan orang tua dan pengasuh anak didik agar selalu terlibat aktif dengan perkembangan yang terjadi di sekolah. Ketiga, keragaman penting karena hal tersebut merupakan upaya pendidikan dalam menutup kesenjangan prestasi anak didik. Guru juga harus mengembangkan hubungan kerja yang kuat antara sekolah, keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitar. Sehingga keragaman bukanlah tantangan, tapi hal tersebut merupakan kesempatan. Anak didik yang beragam adaah sumber daya yang berharga. Mereka membuat kelas menjadi menarik dan mereka membantu ana didik bagaimana hidup dalam masyarakat global.

Pembelajaran yang Merata

                        Belajar di era global ini memiliki dampak positif san dampak negatif. Di satu sisi pembelajaran dapat memanfaatkan teknologi dan dapat mencakup segala sesuatu hanya dengan komputer. Namun di sisi lain pendidik dihadapkan pada permasalahan yang kompleks seperti anak didik yang tidak bisa memilah-milah informasi yang berkualitas diinternet, keakuratan informasi, dan keandalan informasi yang di dapat dari internet. Kemajuan teknologi ini juga mengganggu psikilogi anak didik ketika berada di ruang kelas. Mereka cenderung merasa bosan di sekolah karena pendekatan yang diberikan oleh guru masih menggunakan cara tradisional  dalam proses pembelajaran.

Di abad 21 ini pendidikan ditekankan kepada efektivitas dan kepemimpinan guru dalam memanagemen pembelajaran agar dikembangkan sesuai dengan hal-hal yang berkaitan dengan masa depan atau masa mendatang.

Pengembangan Guru dan Pembelajaran

                   Menjadi guru di masa yang akan datang tidak bisa kita capai hanya dalam satu malam atau hanya sekedar mendapatkan sertifikat mengajar. Sebaliknya, untuk menjadi guru di masa yang akan datang harus dipersiapkan selama seumur hidup. Pembelajaran di perguruan tinggi melalui proses workshop merupakan cara yang paling efektif dalam proses pembelajaran. Namun pada saat ini hal tersebut belum cukup. Sekolah abad 21 telah mengubah cara kita dalam proses bekerja dan belajar.  Dibutuhkan guru yang benar-benar expert di bidangnya seperti yang dijelaskan lebih lanjut dibawah ini.

Kemajuan Perkembangan Guru

               Tidak hanya anak didik yang peru dikembangkan, guru juga perlu mengembangkan kemampuannya baik dari aspek kognitif maupin afektif dari waktu ke waktu. Menurut Francis Fulles (1969) terdapat tiga tahap perkembangan guru. Tahap yang pertama adalah tahap survival. Pada tahap ini guru memiliki fokus terhadap dirinya sendiri akan cara mereka dalam mengajar, bagaimana cara mengontrol kelas dan mengetahui seperti apa anak didik yang dihadapi oleh mereka. Tahap kedua yaitu tahap situasi mengajar. Pada tahap ini guru fokus dalam memanagemen situasi pembelajaran yang ada di kelas dan mencoba untuk mengatasi masalah yang ada dalam pembelajaran yang dihadapi. Sedangkan tahap ketiga dapat tahap penguasaan. Pada tahap ini guru memiliki kepedulian yang sangat siginifikan terhadap anak didik. Guru lebih mendorong anak didik lebih aktif dalam belajar dan guru hanya memberikan instruksi instruksi tertentu kepada anak didik.

Keahlian Guru

          Berliner (1987,1994, 2001) dan Glaser (1987, 1990) mengemukakan perbedaan antara guru pemula dan guru yang ahli (expert) sebagai berikut:

  • Para guru ahli selalu melakukan tugas secara langsung tanpa berpikir tentang bagaimana harus melakukan hal tersebut.
  • Guru yang ahli memiliki keluasan pemahaman yang lebih tinggi dan memungkinkan menggunakan prinsip-prinsip yang relevan dan cepat sedangkan guru pemula pemahaman yang dangkal dan bekerja dengan perlahan-lahan.
  • Guru ahli lebih fleksibel dalam proses pembelajaran dan memanfaatkan informasi baru yang dengan cepat menyesuaikan dengan keadaan. Sedangkan guru pemula hanya merencanakan dan tidak tentu dikerjakan dalam proses pembelajarannya.
  • Guru ahli memiliki pengalaman yang lebih luas dan dalam tentang tindakan yang mereka ambil. Sedangkan guru pemula hanya memiliki pengalaman yang ersifat sementara.
  • Guru ahli mampu dengan mudah mengenali pola belajar anak sedangkan guru pemula masih bingung dan tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi.

Pengetahuan Guru

Pengetahuan yang dimiliki oleh guru antara lain yaitu pengetahuan tentang praktik yang efektif dan pengetahuan tentang diri sendiri. Pengetahuan tentang praktik yang efektif meliputi penguasaan materi, pola belajar anak didik, dan strategi yang sesuai dalam menyampailkan materi.  Sedangkan pengetahuan  tentang diri sendiri  terkait tentang kemampuan guru dalam memotivasi siswa dalam proses pembelajaran.

Kepemimpinan Guru

                       Guru harus mampu memanagemen segala sesuatu terkait dengan proses pembelajaran baik di ruang kelas maupun di luar kelas. Sehingga tercipta lingkungan yang selalu terkondisikan dan terwujudnya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Sumber : Richard I. Arends., Ann Kilcher Routledge Taylor & Francis Group, New York . 2010

Tinggalkan Komentar