Proses belajar mengajar sebagai upaya untuk membelajarkan anak didik. Dalam definisi ini terkandung makna adanya upaya pemikiran dan penggunaan pendekatan dan metode yang tepat agar tujuan pembelajaran yang telah diterapkan sebelumnya dapat tercapai dengan benar. Sedangkan metode sendiri artinya cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan, makin tepat memilih suatu metode akan dapat diharapkan makin efektif pula pencapaian tujuannya tersebut, khususnya dalam bidang pengajaran di sekolah. Kenyataannya telah menunjukkan bahwa manusia dalam segala hal selalu berusaha mencari efisiensi-efisiensi kerja dengan jalan memilih dan menggunakan suatu metode yang dianggap terbaik untuk mencapai tujuannya.

Demikian pula halnya dalam lapangan pengajaran di sekolah, para pendidik berusaha memilih metode pengajaran yang setepat-tepatnya yang dipandang lebih efektif daripada metode-metode lainnya, sehingga kecakapan dan pengetahuan yang diberikan oleh guru itu benar-benar menjadi milik murid.  Pada prinsipnya pengungkapan hasil belajar yang ideal meliputi ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan pembahasan tingkah laku seluruh ranah ini khususnya ranah psikomotorik, alangkah baiknya menggunakan metode yang lebih mengutamakan ranah psikomotorik untuk anak prasekolah, mengingat kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang kompleks, maka hampir tidak mungkin untuk menunjukkan dan mensimpulkan bahwa suatu metode belajar mengajar tertentu lebih unggul daripada metode belajar mengajar yang lainnya, dalam usaha mencapai semua tujuan, oleh semua guru, untuk semua murid dalam situasi dan kondisi dan untuk selamanya.

Banyak metode pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah, tetapi untuk anak prasekolah metode yang dapat diterapkan atau untuk masa-masa 4-6 tahun adalah metode pembelajaran Montessori, yang dianggap dapat membantu untuk mengembangkan pola-pola pikir dan kreativitas anak. Metode pembelajaran Montessori adalah metode pembelajaran yang dalam prakteknya lebih menekankan pada tiga bagian, yaitu pendidikan berdasarkan dengan motorik, sensorik dan bahasa, sedangkan pendidikan yang diberikan pada tahun-tahun pertama kehidupan anak sangat penting karena masa-masa tersebut masa formatif, terutama fisik dan mental.

Metode Montessori ini diperuntukkan bagi anak usia prasekolah di mana anak lebih banyak bermain dalam kehidupannya, sehingga Montessori memberikan metode pembelajaran yang efektif bagi anak usia prasekolah yang bertujuan untuk memberikan stimulus-stimulus bagi kemampuan motorik anak dan mengasah kemampuan intelektual dan kontrol serta mempersiapkan anak untuk memasuki latihan yang lebih kompleks. Terkait dengan pembelajaran Montessori tersebut, maka diberikan latihan motorik melalui berbagai permainan yang dapat merangsang motorik anak. Ketika anak memasuki prasekolah pada sekolah Montessori pada usia 2,5 tahun, latihan dasar dimulai dengan mengenal kehidupan praktis sehari-hari. Tujuannya memperkenalkan pendatang dan dalam ruang lingkup yang menyeluruh, menghargai sesama dan pekerjaan, serta menggunakan alat peraga dengan benar. Anak-anak selanjutnya diperkenalkan latihan penginderaan. Anak-anak diharapkan memiliki pengalaman nyata yang membantu pengembangan pikiran abstrak. Tidak ada batasan usia dalam memperkenalkan setiap latihan atau alat peraga, meskipun materi prasekolah Montessori ilmunya dipersingkat sesuai dengan perkiraan kemampuan anak di masing-masing usia.

Montessori sebagai pakar pendidikan yang sekaligus peduli akan kehidupan anak mengembangkan metode pendidikan yang tidak hanya memperhatikan aspek kognitif, tetapi juga melalui latihan-latihan praktis yang menyentuh jiwa anak. Ia mengemukakan bahwa kemandirian seseorang harus dilatih sejak dini khususnya pada masa kanak-kanak. Ia melatih kemandirian anak lewat latihan-latihan yang sederhana misalnya di sekolahnya ia merancang berbagai alat sederhana yang menunjang anak dalam belajar atau melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Cara menyikapi perkembangan anak usia dini, kita perlu kembalikan ruang kelas menjadi arena bermain, bernyanyi, bergerak bebas, kita jadikan ruang kelas sebagai ajang kreaktif bagi anak dan menjadikan mereka kerasan dan secara psikologis nyaman. Selanjutnya makalah ini menjelaskan bagaimana metode Mantessori dalam pembelajaran.

 

  1. Rumusan Masalah

Beberapa hal yang akan penulis bahsa dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana biografi Maria Montessori?
  2. Bagaimana Prinsip dasar metode pembelajaran Maria Montessori?
  3. Bagaimana implementasi pembelajaran Montessori?
  4. Apa kekurangan dan kelebihan metode pembelajaran Montessori?

 

  1. Tujuan Penulisan

Dalam pembahasan makalah ini bertujuan untuk :

  1. Menjelaskan biografi Maria Montessori
  2. Mengetahui Prinsip dasar metode pembelajaran Maria Montessori
  3. Mengetahui implementasi pembelajaran Montessori
  4. Mengetahui kekurangan dan kelebihan metode pembelajaran Montessori

PEMBAHASAN

  1. Biografi Maria Montessori

Maria Montessori sebagai salah satu pendidik besar dunia. Kisah hidupnya yang luar biasa satu-satu di mana seorang wanita yang memiliki pengalaman, dan wawasan untuk mengembangkan metode pendidikan yang menantang pola konvensional pendidikan. Konvensi dia menantang tidak hanya orang-orang pendidikan: ia harus mengatasi kendala yang membatasi kebebasan perempuan untuk berkarir.

Maria Montessori lahir pada tanggal 31 Agustus 1870, di Chiaravalle, kota bukit yang menghadap ke Laut Adriatik, di provinsi Ancona Italia. Dia adalah satu-satunya anak dari Alessandro Montessori, seorang manajer bisnis di monopoli tembakau milik negara; dan Renilde Stoppani, putri terdidik dari keluarga yang sangat dihormati. Maria Montessori lahir hanya sepuluh tahun setelah unifikasi Italia, di bawah House of Savoy. Sebagai hasil dari “Risorgimento,” yang dipimpin oleh Camillo Cavour, seorang negarawan liberal, dan Giuseppe Garibaldi, seorang patriot yang berapi-api, negara-negara kecil dan kerajaan di semenanjung Italia akhirnya bersatu sebagai satu negara di relawan berbaju merah 1871.

Orang tua Maria Montessori selalu memonitor pendidikan putrinya. Ayahnya, yang mengakui kemampuan akademik putrinya, mendorong studi matematikanya. Meskipun ayahnya kadang-kadang menolak keputusan karir konvensional Maria, ibunya umumnya didukung keputusan Maria. Pada usia dua belas, Maria ditampilkan kemerdekaan karakteristik nya dengan menyatakan niatnya untuk masuk sekolah menengah teknik.

Pada tahun 1883, tiga belas tahun Maria Montessori terdaftar di Regia Scuola Technica Michelangelo Buonarroti, sekolah teknik negara. Sebagai mahasiswa di Scuola Technica, Maria mengejar kurikulum tujuh tahun, disetujui oleh kementerian nasional, yang termasuk sastra Italia, Prancis, matematika seperti aljabar dan geometri, ilmu seperti kimia dan fisika, sejarah, dan geografi. Instruksi mengikuti metode konvensional menghadiri kuliah, menghafal buku teks, dan menanggapi pertanyaan instruktur ‘dengan tilawah terstruktur. Montessori lulus dari sekolah teknik di musim semi 1886 dengan nilai tinggi di mata pelajaran dan dengan nilai kumulatif akhir dari 137 dari kemungkinan 150.

Setelah menyelesaikan studinya di Scuola Technica, Maria berikutnya memasuki Regio Instituto technico Leonardo da Vinci, di mana 1886-1890 ia belajar pelajaran yang terkait dengan rekayasa. Pada tahun 1890, dalam sebuah keputusan karir penting, ia memutuskan untuk meninggalkan studi teknik untuk belajar kedokteran. lamarannya ke Universitas Roma School of Medicine pada awalnya ditolak oleh fakultas semua laki-laki. wanita muda yang sangat ditentukan bertahan, dan fakultas setuju untuk mengakui dia ke Universitas Roma pada musim gugur 1890 sebagai mahasiswa fisika, matematika, dan ilmu alam. Dia lulus ujian untuk diploma di Licenza pada tahun 1892, mendapatkan nilai akhir delapan dari kemungkinan sepuluh poin. Dia sekarang akademis yang layak untuk memulai studi sebenarnya kedokteran, anatomi, patologi, dan kerja klinis. Montessori adalah wanita pertama yang akan diterima di sekolah kedokteran. 5

Pada bulan September 1898, Montessori ditujukan Kongres Pedagogical di Turin pada subjek pendidikan anak-anak cacat mental. Pada saat itu, retardasi mental tidak kategoris didefinisikan tapi termasuk berbagai anak-anak, termasuk mereka yang fisiologis gangguan serta orang-orang yang disebut sebagai “lamban,” tunggakan, dan anak-anak terganggu emosinya. Mengutuk praktek yang berlaku membatasi anak cacat mental untuk rumah sakit jiwa dengan orang dewasa, dia mendesak bahwa mereka harus dirawat di lembaga pendidikan. Dengan alasan bahwa keterbelakangan mental terutama masalah pedagogis, bukan satu medis, dia direkomendasikan bahwa anak-anak masalah ini akan berkumpul dalam lingkungan pendidikan khusus. pemisahan ini, ia berpendapat, akan membebaskan guru dari kelas reguler dari keharusan untuk mengatasi kasus-kasus serius kecacatan.Selanjutnya, anak-anak di kelas khusus akan menerima perhatian individu yang diperlukan, dan karena itu mereka bisa melanjutkan dengan langkah mereka sendiri tanpa harus memindahkan dengan kelompok yang lebih besar. Selain itu, kelas-kelas khusus yang memiliki jasa psikiater dan spesialis pediatrician- yang bisa menentukan kebutuhan individu setiap anak dan menyiapkan resep belajar individual untuk setiap anak.

Pada tahun 1900, Scuola Magistrale Ortofrenica, Sekolah Orthophrenic, dibuka dengan Montessori dan Dr. Giuseppe Montesano sebagai codirectors. Dengan pelatihan tuna rungu dan cacat mental anak-anak, sekolah memberikan lingkungan pendidikan di mana guru bisa siap untuk bekerja dengan anak-anak yang memiliki kondisi handicap. Montessori diarahkan Sekolah Orthophrenic selama dua tahun, 1900-1901.

Berdasarkan pendidikan kedokteran sendiri, yang didasarkan pada pekerjaan yang luas dengan anak-anak cacat mental dan membaca nya Itard dan Seguin, Montessori menyimpulkan bahwa metode yang digunakan pada anak-anak pelatihan dengan kekurangan mental yang dapat diterapkan untuk anak-anak normal, terutama yang dari muda usia. Melihat paralel antara keduanya, ia menulis, “Selama periode awal masa bayi ketika anak yang belum kekuatan untuk mengembangkan dan dia yang belum dikembangkan dalam beberapa hal sama.”  Secara khusus, paralelisme itu jelas dalam anak-anak koordinasi motorik dan pengembangan sensorik dan bahasa mereka. Metode yang membantu dalam pelatihan anak-anak dengan kekurangan mental yang bisa diterapkan, dengan sukses besar, untuk pendidikan anak-anak normal.

Kita dapat mengikuti alur pendidikan Maria Montessori berdasarkan sistem  pendidikan Italia pada saat itu sebagai berikut:

  1. Tahun 1876/1877 hingga 1880/1881, Maria belajar di SD Via di San Nicolo dari Tolentino. Meskipun disebutkan bahwa sekolah dasar ditempuh selama5 tahun, terdapat data yang tidakjelas untuk tahun ajaran 1881/1882 dan tahun ajaran 1882/1883.
  2. Tahun 1883/1884 hingga 1885/1886, Maria belajar di sekolah kejuruan teknik Regia Scuola Tecnica Michelangelo Buonarotti.
  3. Tahun 1886/1887 hingga 1889/1890, Maria belajar di akedemi kejuruan teknik Regio Istituto tecnico Leonardo da Vinci dan mengambil jurusan Ilmu Fisika dan Matematika.
  4. Tahun 1890/1891 hingga 1891/1892, Maria kuliah di Universitas La sapienza Roma, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
  5. Tahun 1892/1893 hingga 1895/1896, Maria beralih ke Fakultas Kedokteran dan menyelesaikan studinya.

Pada saat Maria merasa tidak mengalami kesulitan dalam belajar dan selalu lulus ujian atau tes secara mudah, saat itulah ia mulai tertarik untuk belajar lebih serius. Ia sangat tertarik pada ilmu Matematika. Kadang-kadang, saat pelajaran teater di sekolah diam-diam Maria membawa buku matematikanya dan mempelajarinya dalam cahaya remang-remang. Ketertarikan yang besar terhadap ilmu matematika menyebabkan Maria meneruskan sekolahnya di sekolah kejuruan dasar teknik.

Memilih jurusan teknik tentu saja dianggap berlebihan oleh ayah Maria. Pada masa itu, wanita bergelar sarjana teknik belum pernah terpikirkan sama sekali, apa lagi ia  berdarah bangsawan. Ambisi untuk mengambil sekolah jurusan teknik dinilai sangat tidak masuk akal karena sekolah teknik didominasi oleh laki-laki, dan tidak ada satupun siswa wanita di sekolah itu.

Renilde mendukung Maria untuk berani melawan arus dan berjuang mewujudkan impiannya. Hal itu tampak setelah Maria lulus dari sekolah kejuruan dasar teknik. Maria ingin melanjutkan ke akademi kejuruan teknik, namun sekali lagi ia mendapat tantangan keras dari ayahnya. Berkat kegigihan dan dukungan kuat ibunya, akhirnya Maria diizinkan masuk Institut Ilmu Teknik dan lulus dengan nilai akhir 137 dari 150. Nilai Maria yang sangat bagus tersebut kian membuka jalannya ke Universitas.

Pada tanggal 10 Juli 1896, Maria lulus dari Fakultas Kedokteran dengan nilai luar  biasa. Nilai maksimal untuk suatu kelulusan seharusnya adalah 100, Maria Montessori lulus dengan nilai 105. Itulah bukti bahwa Maria memang sangat luar biasa dengan kepekaan dan karismanya. Seperti ditulis Maria kepada seorang sahabatnya, “Aku terkenal bukan karena keahlianku atau kemampuan intelektualku. Aku terkenal hanya karena keberanianku menjadi berbeda dalambanyak hal. Ini seperti seseorang yang  berharap dan selalu bisa mencapainya. Namun, untuk mencapai impian tersebut, diperlukan usaha dan pengorbanan yang besar.

  1. Prinsip dasar dan Tujuan metode Montessori
  2. Kebebasan anak untuk mengembangkan kemampuan Jasmani dan jiwa

Kebebasan dalam pendidikan merupakan hal yang penting terutama bagi anak yang masih sangat muda. Hal ini tidak hanya sekedar ide belaka tetapi sungguh dikembangkan Montessori untuk sekolahnya. Setiap pendidikan harus berpedoman pada pribadi yang hidup, karena tugas pendidikan adalah membantu anak untuk semakin dapat mandiri dalam hidup dengan mengembangkan seluruh kemampuannya secara maksimal. Kemerdekaan bukanlah kesibukan yang tidak bertujuan yang sering dipertunjukkan anak tetapi merupakan basis untuk membentuk sikap disiplin dalam diri anak. Menurut Montessori konsep kebebasan dalam pendidikan semestinya dimengerti sebagai kebebasan yang menuntut kondisi yang paling mendukung perkembangan seluruh kepribadian anak bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental termasuk perkembangan kemampuan otak.

  1. Mendidik Anak untuk mandiri

Syarat utama untuk menjadi pribadi yang merdeka adalah kemandirian. Sehingga anak harus dibantu supaya menjadi pribadi yang merdeka sejak kecil. Itu berarti sejak anak-anak memasuki fase awal untuk aktif, aktivitas mereka itu semestinya menjadi dasar untuk mengarahkan mereka agar semakin mandiri. Misalnya anak dibiasakan mengenakan pakainnya sendiri, mengambil keperluannya sendiri dan lain-lain. Itulah gambaran pendidikan yang menuju kebebasan sekaligus membantu anak.

Pendidikan yang efektif semestinya membantu anak untuk menjadi pribadi yang semakin mandiri. Semua bantuan yang tidak perlu justru menghambat proses makin mandiri yang semestinya dicapai anak. Pendidikan semestinya membantu anak untuk semakin dapat melakukan sendiri segala sesuatu yang berguna untuk kelangsungan hidupnya, dengan demikian sebagai individu ia semakin mengembangkan begitu banyak kemampuan untuk masa depannya. Membentuk pribadi yang kompeten tidak lain adalah membentuk pribadi yang mandiri dan merdeka. Hal ini seharusnya menjadi prinsip fundamental bagi pendidikan.

  1. Penghapusan hadiah dan hukuman

Penghapusan hadiah dan hukuman merupakan konsekuensi dari penerapan prinsip di atas. Anak yang terbiasa untuk beraktivitas akan lebih menghargai hadiah yang tidak meremehkan kemampuannya untuk melakukan sesuatu, karena ia sadar bahwa perkembangan kemampuan dan kemerdekaan batin menjadi asal usul bagi aktivitasnya. Hal ini tampak jelas pada setiap sekolah Montessori. Hadiah-hadiah yang ada tidak lagi menarik perhatian anak, karena pemberian hadiah justru dirasakan melukai harga diri anak.

Berkaitan dengan hukuman, Montessori mengemukakan bahwa ketika ada anak yang nakal, dan mengganggu teman lain, anak ditempatkan di sudut ruangan untuk bermain sendiri dengan mainan kesenangannya sambil duduk di kursi yang empuk. Pada awalnya ia merasa senang berada di situ namun makin lama ia melihat teman-temannya melakukan banyak hal bersama-sama, ia akan menyadari betapa bermanfaatnya bekerja sama dengan yang lainnya. Dengan demikian ia akan bergabung kembali dengan rekan-rekannya. Dari pengalaman itu ia akan menemukan sendiri pentingnya disiplin dan menghargai orang lain tanpa harus diatur oleh guru. Menurut Montessori hukuman semacam ini jauh lebih mendidik dibandingkan dengan hukuman fisik yang sering diterapkan di sekolah tradisional.

  1. Perkembangan alat-alat indera anak

Ciri sistem Montessori yang terpenting adalah besarnya perhatian yang dicurahkan kepada perkembangan penginderaan. Menurut Montessori masa peka pertumbuhan alat-alat indera manusia terdapat antara usia 3-6 tahun . Oleh karena itu semua latihan untuk menyempurnakan pertumbuhan alat indera anak hendaknya dijalankan pada masa itu. Bersamaan dengan pertumbuhan alat indera anak, mulailah anak tertarik pada hal-hal di sekelilingnya.

Pendidikan alat indera manusia bertujuan menciptakan manusia yang dapat beradaptasi dengan alam sekitarnya. Anak harus dididik untuk hidup sesuai dengan kenyataan. Menurut Montessori kecerdasan otak akan tetap rendah tingkatnya jika tidak ada pendidikan alat indera. Sebab alat indera itulah yang menangkap bayangan dari luar yang dibutuhkan oleh otak. Apabila alat indera kita dihaluskan maka otak akan memperoleh pengaruh yang baik sekali. Menurut Montessori pendidikan penginderaan merupakan dasar bagi pembentukan konsep-konsep intelektual serta menyiapkan anak untuk menjadi pengamat yang tidak hanya mampu menyesuaikan diri dengan peradaban modern tetapi juga untuk keperluan sehari-hari. Inti dari pendidikan penginderaan adalah melatih anak mempertajam kemampuan untuk menangkap dan membeda-bedakan berbagai rangsangan inderawi secara tepat sehingga dapat memberikan penilaian secara tepat pula.

Berdasarkan empat prinsip dasar metode Montessori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode Montessori adalah anak harus dihormati sebagai individu yang bebas serta perkembangan pribadi anak baik jasmani maupun jiwa merupakan perhatian pokok dalam pendidikan.

Tujuan dari metode Montessori adalah :

  1. Membantu para orang tua dalam menerapkan pola pengajaran yang efektif bagi anak mereka.
  2. Membantu anak-anak didik dalam mengembangkan tingkat intelektual, psikomotor, dan afektif yang ada pada diri mereka.
  3. Membuat anak dituntut untuk dapat berkembang sesuai dengan periode
    perkembangannya saat mereka mulai peka terhadap tugas-tugasnya.
  4. Mengajarkan pada anak cara belajar yang efektif dan optimal melalui permainan.
  5. Mengembangkan keterampilan yang menekankan pada pentingnya anak bekerja bebas dan dalam pengawasan terbatas.
  6. Anak diajarkan untuk dapat berkonsenterasi dan berkreasi.
  7. Guru hanya sebagai pengamat dan pembimbing, karena anak dibiasakan untuk memilih sesuai dengan keinginan sendiri.
  8. Ciri Khas Sekolah Maria Montessori
  9. Disiplin

Menurut Montessori bahwa disiplin harus datang melalui kebebasan. Berikut ini adalah prinsip besar yang sulit untuk memahami pengikut metode umum-sekolah. Bagaimana seseorang akan mendapatkan disiplin di kelas anak-anak? Montessori memiliki konsep disiplin yang sangat berbeda dari yang biasa diterima. Jika disiplin didirikan pada kebebasan, disiplin itu sendiri tentu harus aktif .

Montessori menyebutnya seorang individu disiplin ketika dia menguasai dirinya sendiri, dan bisa, karena itu, mengatur perilaku sendiri ketika akan perlu untuk mengikuti beberapa aturan hidup. Konsep seperti disiplin aktif tidak mudah baik untuk memahami atau menerapkan. Namun yang pasti mengandung prinsip besar pendidikan, hal ini sangat berbeda dari metode lama. Montessori sangat menekankan pentingnya anak beraktivitas dengan leluasa, karena memandang mereka sedang berada dalam fase awal mulai aktif dalam hidup sehingga aktivitas spontan mereka perlu dihargai. Montessori menolak bentuk praktis yang menghalang-halangi aktivitas mereka dan pembebanan kewajiban-kewajiban di luar batas kemampuan.

Montessori juga menolak anggapan yang mengatakan bahwa tertib dan tenang itu baik, sedang aktif dan bergerak itu buruk sebagimana yang biasa dimengerti di sekolah tradisional. Menurut Montessori tujuan disiplin adalah untuk aktif, melakukann sesuatu, berbuat baik bukan untuk diam dan pasif. Jadi kelas yang setiap anak aktif melakukan sesuatu yang berguna untuk menguji kemampuan-kemampuannya tanpa bertindak secara kasar dan mengganggu teman lain merupakan kelas yang disiplin.

Bagi Montessori kedisiplinan seperti itu merupakan hasil perkembangan potensi-potensi dari dalam kejiwaan anak yang merasakan hidup mereka diperdalam dan dikembangkan. Kedisiplinan yang muncul dari dalam ini tidak mungkin dicapai hanya dengan memberikan berbagai perintah, peringatan ataupun nasehat. Tanda awal munculnya kedisiplinan dari dalam itu dapat terlihat pada tindakan anak dalam menggunakan alat-alat kerja. Wajah anak akan memperlihatkan rasa tertarik mereka pada apa yang sedang mereka kerjakan dan mereka akan bertahan lama dalam latihan-latihan itu.

Untuk membentuk disiplin diri diperlukan serangkaian kegiatan yang dilakukan sendiri oleh anak dan yang disiapkan dengan metode pedagogis yang benar. Kedisiplinan selalu dicapai dengan cara yang tidak langsung. Tujuan kedisiplinan dicapai bukan dengan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang dibuat anak, tetapi dengan memberi kesempatan anak untuk memilih kegiatannya sesuai dengan apa yang dirasakan akan memperkembangkan potensinya dan bekerja bebas sesuai dengan kecenderungannya.

  1. Kriteria pembelajaran di kelas

Proses pembelajaran di kelas Montessori melibatkan banyak peralatan pendidikan yang dirancang oleh Montessori. Anak bebas memilih alat pelajaran yang dibutuhkan. Setiap alat memiliki fungsi tertentu dalam merangsang perkembangan anak, serta tata ruang kelas di sekolah Montessori jauh berbeda dengan tata ruang kelas di sekolah tradisional. Meja dan kursi dibuat kecil, ringan dan mudah dipindah-pindahkan oleh anak sendiri, agar anak dapat memilih sendiri posisi duduk yang nyaman baginya seperti duduk di rumah sendiri.

Montessori menyebutkan tiga ciri utama pelajaran yang diberikan secara individual yaitu:

  1. Pelajaran yang diberikan harus singkat. Semakin banyak kata-kata yang tidak berguna dihilangkan, semakin baik suatu pelajaran. Ketika mempersiapkan pelajaran yang akan diberikan, pendidik mesti mempertimbangkan bobot kata-kata yang akan diucapkan.
  2. Pelajaran harus sederhana. Kata-kata yang sudah dipilih dengan seksama haruslah yang paling sederhana yang bisa ditemukan dan mengacu pada kebenaran.
  3. Pelajaran harus objektif. Guru tidak boleh menarik perhatian anak-anak pada dirinya sendiri sebagai guru, melainkan hanya pada objek yang ingin diterangkan. Penjelasan singkat itu harus merupakan penjelasan mengenai objek yang akan dipelajari anak-anak.

Montessori mengatakan dalam proses pembelajaran, guru harus menghargai kebebasan anak. Jika anak tidak mengerti penjelasan guru, Montessori memberikan dua nasehat yaitu: jangan berupaya untuk mengulang pelajaran yang sudah diberikan dan jangan membuat anak merasa bahwa ia membuat suatu kesalahan. Guru harus pandai menciptakan kegiatan yang bervariasi dan tidak menerapkan disiplin. Anak pada masa ini akan berkembang kecerdasannya dengan cepat kalau diberi penghargaan dan pujian yang disertai kasih sayang, dengan tetap memberikan pengertian kalau mereka melakukan kesalahan atau kegagalan. Dengan kasih sayang yang diterima, anak-anak akan berkembang emosi dan intelektualnya, yang penting adalah pemberian pujian dan penghargaan secara wajar.

Ada berbagai materi pembelajaran yang dikembangkan di sekolah Montessori anatara lain:

Materi pembelajaran menulis dan membaca

  • Menulis

Montessori membagi pembelajaran menulis dalam tiga periode sebagai berikut:

  1. Latihan untuk mengembangkan mekanisme muskuler yang perlu untuk memegang dan menggunakan alat tulis. Latihan ini berupa persiapan dengan kegiatan menduplikat bentuk geometris dan mewarnai sketsa lukisan.
  2. Latihan untuk menanam dalam ingatan bentuk visual abjad dengan gerakan-gerakan yang perlu untuk menulis. Latihan penguasaan abjad dimulai dengan vokal lebih dahulu baru konsonan yang disertai dengan lafal bunyinya.
  3. Latihan untuk menyusun kata-kata. Latihan ini sangat penting karena melibatkan banyak unsur dalam diri anak: ia menganalisis, menyempurnakan, membetulkan pengucapan dan menempatkan objek-objek sesuai dengan apa yang didengarnya. Latihan ini kalau diulang-ulang akan mengembangkan kemampuan intelektualnya.

Tiga periode ini memuat semua langkah yang perlu dalam mempersiapkan anak untuk menulis tanpa pernah menulis dengan pensil sebelumnya. Dengan menguasai ketiga langkah ini suatu saat anak akan sampai pada suatu spontanitas dalam menulis.

  • Membaca

Membaca adalah interpretasi atas sebuah gagasan dari tanda-tanda tulis. Montessori menemukan bahwa menulis mesti dilatih lebih dahulu sebelum membaca. Dalam menulis lebih banyak dilibatkan kemampuan psikomotoris, sedangkan membaca hanya dibutuhkan kemampuan intelektual. Anak tidak cukup hanya mengucapkan kata-kata yang ia lihat, tetapi harus mengerti arti dan gagasan dari setiap kata yang ia lihat. Karana itu membaca lebih kompleks daripada menulis karena menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi.

Menulis itu berguna untuk mengoreksi, memperbaiki, mengarahkan dan menyempurnakan bahasa lisan anak, sedangkan membaca berguna untuk membantu mengembangkan gagasan-gagasan dan menghubungkannya dengan perkembangan kemampuan berbahasa anak. Menulis membantu perkembangan bahasa psikologis anak, sedangkan membaca membantu mengembangkan bahasa sosial anak.

Pendidik menyiapkan beberapa helai kartu yang sudah ditulisi dengan kata-kata yang sudah umum dikenal. Kartu diletakkan di depan anak untuk membantunya membuat interpretasi atas yang tertulis di atas kartu. Pada fase ini anak sudah terbiasa mengetahui bagaimana membaca setiap kata dengan mengucapkan setiap suara yang menyusunnya. Jika anak dapat mengucapkannya dengan tepat, pendidik cukup mengatakan “ Lebih cepat! Lebih cepat!” Ketika hal ini dilakukan berulang-ulang anak akan semakin lancar dalam membaca dan mengerti arti kata yang diucapkanya. Dengan demikian latihan membaca akan berlangsung dengan cepat karena anak sudah memiliki kemampuan menulis sebelumnya.

Satu hal yang menarik adalah ketika anak sudah menguasai kemampuan membaca, ia tidak lagi menerima hadiah-hadiah mainan yang di berikan karena merasa tidak ingin membuang-buang waktu dengan mainan. Ia akan terus mencoba membaca kata-kata sebanyak mungkin. Ia bergembira ketika bisa membaca atau menulis kalimat-kalimat sederhana yang disusun sendiri dari pengamatan atas lingkungan sekitarnya.

  • Pembelajaran matematika

Montessori mengajari anak-anak untuk berhitung dengan menggunakan uang logam. Dengan itu anak-anak sangat tetarik, karena perhitungan ini praktis dan berkaitan dengan hidup harian mereka. Ada beberapa latihan dalam pembelajaran matematika antara lain:

  1. Latihan mengenal angka-angka.

Anak dilatih mengenal tanda angka dengan kuantitas objek-objeknya dengan menggunakan semacam dua baki kecil yang masing-masing berisi lima kotak kecil. Bagian bawah kotak itu ditulis angka 0-4 dan 5-9. Masing-masing kotak kecil diisi dengan objek-objek sejumlah angka yang dimaksudkan. Anak bisa berganti-ganti baik posisi maupun objek untuk variasi.

Awalnya anak bimbang untuk mengisikan sesuatu pada kotak yang bertuliskan angka nol. Untuk membantunya pendidik bisa menggunakan analogi dengan permainan yang meminta anak untuk datang nol kali atau untuk mencium nol kali. Mulanya saat diminta untuk datang anak akan melangkahkan kakinya, tetapi hal ini harus dikoreksi guru sampai akhirnya anak mengerti nol kali itu.

  1. Latihan mengingat angka-angka

Kalau anak sudah dapat mengerti simbol angka yang tetulis memiliki nilai kuantitas objek senilai yang disimbolkan, anak dapat dilatih dengan latihan berikut: Pendidik menggunakan angka-angka potongan klender dari 1-10. Kertas-kertas kecil itu dilipat. Anak diminta untuk membuka, mengingat angkanya dan menutup kembali. Lalu anak diminta untuk mengambil objek-objek sejumlah angka itu. Permainan ini dapat diulang-ulang.

Selain materi pembelajaran di atas, anak juga dilatih dengan berbagai latihan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan dalam hubungannya dengan orang lain, misalnya merawat diri sendiri, memperhatikan kebersihan lingkungan, bekerja sama dengan teman dan lain-lain. Dalam latihan ini anak didorong dan dilatih untuk menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri serta mampu bersosialisasi pada lingkungannya.

Sebelum anak melakukan hal-hal tersebut di atas, guru harus memberikan penjelasan tentang cara dan alat yang dipakai. Sesudah penjelasan anak dibiarkan untuk mempraktekannya sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing. Selama melakukan hal-hal tersebut anak dibiarkan melakukannya sendiri. Guru hanya mengamati tanpa memberikan komentar terhadap setiap kesalahan yang dilakukan anak. Guru hanya boleh memberikan bimbingan jika anak membutuhkannya. Tujuan dari latihan ini adalah melatih anak untuk tidak terus bergantung pada orang lain melainkan belajar menyelesaikan suatu masalah secara mandiri.

Montessori yakin bahwa melalui latihan-latihan yang diterapkan, anak pasti akan mengalami perkembangan. Namun ia juga menekankan bahwa meskipun anak mengalami perkembangan, tidak berarti bahwa anak akan dibiarkan untuk berjalan sendiri, melainkan guru tetap mengamati setiap perkembangan yang terjadi secara terus-menerus. Dalam hal tertentu anak masih membutuhkan bantuan guru untuk meneguhkan apa yang dibuatnya. Sama halnya dengan seorang bayi, meskipun sudah bisa berjalan namun ia masih membutuhkan ayah atau ibunya untuk menuntunnya. Hal tersebut di atas, akan mendukung anak dalam mengaktualisasikan dirinya serta melakukan sesuatu secara mandiri.

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam keseluruhan metode ini adalah guru harus mengenal anak didiknya, mengetahui latar belakang kehidupan mereka. Dalam sekolah Montessori kedekatan antara guru dan murid diibaratkan seperti seorang ibu dengan anaknya. Dengan demikian relasi antara guru dan anak-anak dapat terjalin dengan baik serta guru dapat dengan mudah mendampingi mereka sesuai dengan perkembangan masing-masing.

  1. Kelebihan dan Kekurangan Metode Montessori

Kelebihan metode Montessori

  1. Konsep pendekatan Montessori dapat diberikan pada anak dari berbagai latar belakang dan kondisi yang beragam.
  2. Memiliki laboratorium sekolah dan sistem penyelenggaraan yang terkontrol terhadap seluruh sistem pendidikan Montessori.
  3. Menghasilkan konsep dan material/alat pendidikan yang sistematis dan operasional sesuai dengan tahapan perkembangan dan kemampuan anak.
  4. Mengeluarkan panduan-panduan tentang sistem pembelajaran di sekolah Montessori.

Kekurangan Metode Montessori

  1. Memerlukan media pembelajaran yang sangat beragam, serta harga material yang sangat mahal sulit terjangkau oleh sekolah-sekolah umum.
  2. Terlalu bersifat perseorangan, sehingga memerlukan rasio perbandingan antara guru dan murid yang kecil.
  3. Pelatihan penyelenggaraan konsep pendidikan Montessori sangat mahal bagi guru-guru di sekolah umum, hal ini tentunya menjadi masalah bagi sekolah yang memiliki tingkat ekonomi rendah.

Mengacu pada ke dua poin di atas, maka secara umum  dapat disimpulkan bahwa setiap metode pembelajaran masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap pembelajaran tentunya sangat dipengaruhi oleh cara pandang guru terhadap anak.

PENUTUP

  1. Simpulan

Proses belajar mengajar merupakan kegiatan yang memberikan kontribusi besar terhadap proses pembentukan pribadi anak. Proses pembinaan secara efektif dan intensif melalui proses internalisasi nilai-nilai ajaran Islam secara bertahap ke dalam pribadi anak yang berlangsung sesuai dengan tingkat perkembangannya, yang dilakukan oleh guru lewat pembelajaran tersebut. Pembelajaran juga sebagai upaya untuk membelajarkan anak didik. Pendidikan merupakan usaha dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau membantu anak agar mampu melaksanakan tugas hidupnya sendiri secara mandiri. Menurut Montessori untuk menjadi pribadi yang mandiri, seseorang harus dilatih sejak dini khususnya pada masa kanak-kanak karena pada masa itu merupakan masa peka dimana anak mampu menerima segala sesuatu yang diajarkan.

Kebebasan dalam metode Montessori adalah kebebasan yang mendukung perkembangan seluruh kepribadian anak bukan hanya secara fisik tetapi juga mental termasuk perkembangan otak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan dalam metode Montessori adalah mengembangkan seluruh potensi anak yang dapat dilakukan melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui berbagai latihan praktis yang berkaitan dengan kehidupan anak itu sendiri.

  1. Saran

Ada beberapa saran secara khusus bagi guru dan praktisi pendidikan, bahwa dalam mengaplikasikan suatu metode pembelajaran:

  • Guru harus merumuskan tujuan pembelajaran.
  • Guru harus mampu memahami tahap perkembangan anak
  • Guru harus mampu memahami karakteristik dan sifat anak
  • Guru harus mampu memahami konsep dasar, kelebihan dan kekurangan setiap metode
  • Guru harus mampu memilih metode pembelajaran sesuai dengan kemampuan anak, kondisi ekonomi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gutex Lee G. 2004, The Origins of an Educational Innovation: Including an Abridged and Annotated Edition of Maria Montessori’s The Montessori Method. .New York: Rowman & Littlefield Publishers

Kahfi, A, 2016, diakses https://www.academia.edu/9202093/Montessori

Montessori M, 2009, Montessori’s Own Handbook, New York : frederick a. Stokes company.

Kahfi, A, 2016, diakses https://www.academia.edu/9202093/Montessori

Tinggalkan Komentar