Pada unit ini, Anda akan mempelajari pembelajaran pemecahan masalah di kelas. Telah kita ketahui bersama bahwa dalam kurikulum kita yang selanjutnya dinamakan KTSP 2006, pemecahan masalah merupakan fokus pembelajaran matematika. Oleh karena itu melalui unit ini, Anda mahasiswa S1 PGSD yang sebagai guru SD yang sedang membelajarkan matematika, diharapkan mampu melakukan kegiatan untuk mengembangkan metodologi dasar keilmuan matematika, yang selanjutnya dapat menerapkan pembelajaran yang berfokus pada pemecahan masalah bagi siswa SD.

Oleh karena itu,  materi dalam bahasan unit 9 ini dibagi menjadi empat, yaitu :

  • Subunit 1 membahas tentang peranan guru dalam pembelajaran pemecahan masalah
  • Subunit 2 membahas tentang tipe-tipe pengajaran pemecahan masalah
  • Subunit 3 membahas tentang langkah-langkah dalam pembelajaran pemecahan masalah
  • Subunit 4 membahas tentang penilaian pemecahan masalah

Perlu diketahui bahwa pengetahuan atau pengalaman yang anda miliki sebelumnya sangat membantu dalam mempelajari unit ini.  Sehingga secara khusus Anda diharapkan dapat :

  • Menjelaskan empat level kemampuan siswa pada problem solving meliputi level pengenalan, pemula, pecandu/penggemar, ahli.
  • Menjelaskan peran guru pada setiap level berdasarkan beberapa karakteristik pengembangan problem solving yang ada pada setiap level
  • Menjelaskan pengajaran dengan pemecahan masalah
  • Menjelaskan pengajaran tentang pemecahan masalah
  • Menjelaskan pengajaran untuk pemecahan masalah
  • Menjelaska perencanaan dalam langkah-langkah pembelajaran pemecahan masalah meliputi tahap sebelum, selama dan sesudah
  • Menjelaskan pengkombinasian 4 strategi pengajaran untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah meliputi pemodelan, pelatihan, penjelasan, penyediaan
  • Menjelaskan penilaian pemecahan masalah

Dari setiap subunit tersebut juga dilengkapi dengan latihan-latihan, agar Anda dapat semakin memahami konsep/materi yang dipaparkan. Pelajari unit ini dengan tuntas, kemudian untuk mengetahui  tingkat penguasaaan Anda terhadap materi ini, kerjakan tes formatifnya. Untuk membandingkan hasil penguasaan Anda terhadap materi ini, Anda dapat membandingkan dengan kunci jawaban tes formatif yang berada di bagian akhir unit. Dari hasil perbandingan tersebut, Anda bisa mengetahui kemampuan Anda, apakah sudah memenuhi standart yang dipersyaratkan atau belum. Jika penguasaan Anda belum memenuhi standar yang dipersyaratkan, coba pelajari ulang, terutama pada konsep-konsep yang belum Anda pahami dengan benar. Jika Anda mengalami kesulitan, jangan segan-segan bertanya pada dosen atau rekan Anda yang lebih mampu. Manfaatkan sumber belajar lain yang mendukung, misalnya bahan ajar berbasis web yang telah disediakan.

Peranan Guru dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah

Dalam pembelajaran pemecahan masalah biasanya membutuhkan waktu untuk mengembangkan kecakapan dalam memecahkan masalah. Siswa harus diberi beberapa masalah dalam rentang waktu yang harus diselesaikan dalam suatu proses pembelajaran di sekolah. Problem solving  tidak harus diajarkan atau diberikan kepada siswa oleh guru layaknya seperti hidangan siap saji di sebuah meja makan, akan tetapi lebih sebagai pemberian kuah saja yang harus ada pada setiap hidangan pada sebuah pesta hidangan matematika.  Meskipun dengan keadaan demikian, peran guru boleh berbeda tergantung pada tingkatan kemampuan siswa pada problem solving tersebut

Tipe-tipe Pengajaran Pemecahan Masalah

Ada tiga tahap dalam model pengajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran pemecahan masalah di kelas, seperti yang ditunjukkan pada gambar 9.1 di bawah, yaitu :

  • membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan konsep dan ketrampilan.
  • menyediakan siswa dengan berbagai kesempatan untuk mengkonsolidasikan konsep atau ketrampilan tersebut.
  • menyediakan siswa berbagai kesempatan untuk mentransfer pengetahuan mereka pada situasi yang baru (Aslock, et all. 1980).

Pada yang terakhir ini, fokusnya pada pentransferan pengetahuan. Selanjutnya, pemecahan masalah melibatkan siswa dalam pentransferan pengetahuan sebuah konsep atau ketrampilan mereka kepada situasi yang umum.

Langkah-langkah dalam Pengajaran Pemecahan Masalah

Pengajaran pemecahan masalah di kelas, nampaknya perlu didesain secara sistematis agar siswa merasa tidak bosan dan merasa nyaman. Charles dan Lester (dalam Kaur Berinderjeet, 2008) dari hasil penelitiannya mengatakan bahwa perencanaan dalam langkah-langkah pembelajaran pemecahan masalah, ada tiga hal yang menjadi perhatian, yaitu :

  • Sebelum, pada tahap ini siswa berdiskusi tentang permasalahan yang diberikan dan strategi apa yang layak untuk digunakan.

Dalam tahapan ini, langkah pembelajarannnya bertujuan untuk menyuruh siswa membaca dan mendalami permasalahan. Aktivitas hal tersebut meliputi mendiskusikan kata demi kata, atau frase demi frase dalam permasalahan, atau sama seperti menyuruh siswa untuk menemukan informasi yang penting dari permasalahan yang diberikan, selain itu juga bertujuan untuk menyuruh siswa agar berfikir tentang strategi yang memungkinkan untuk digunakan dalam pemecahan masalah. Langkah pembelajaran ini merangsang siswa dalam memahami permasalahan dan merencanakan strategi yang akan digunakannya.

  • Selama, pada tahap ini siswa sedang bekerja memecahkan masalah yang telah diberikan secara individual atau kelompok.

Dalam tahapan ini, langkah pembelajarannya diawali dengan meneliti dan menanyai siswa tentang kesulitan-kesulitan dalam pemecahan masalah. Kemudian, yang menjadi tujuan dalam tahapan ini adalah membantu siswa yang tidak mempunyai pengalaman, dan untuk menantang mereka yang dapat menyelesaikan masalah lebih cepat dari teman yang lainnya. Sarannya meliputi pemberian perluasan masalah/permasalahan. Tujuan yang lain dari tindakan pembelajaran ini agar siswa untuk dapat menempatkan solusi yang tepat pada situasi masalah yang telah diberikan. Tindakan  pembelajaran ini merangsang siswa dalam menerapkan strategi yang telah mereka rencanakan,  mendatangkan respon kognitif dan metakognitif dari siswa, serta pengelompokan siswa berdasarkan tingkat tantangan yang diberikan sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.

  • Sesudah, pada tahap ini siswa mencoba atau berusaha memecahkan masalah yang telah diberikan.

Dalam tahapan ini,  secara umum langkah pembelajarannya bertujuan untuk : (1) membantu siswa mempelajari tentang proses pemecahan masalah, (2) membantu siswa mengetahui macam-macam heuristik yang dapat digunakan siswa untuk memecahkan suatu permasalahan, (3) membimbing siswa dalam menghubungkan masalah yang telah diselesaikan dengan masalah lainnya guna mengetahui bentuk struktur dari setiap masalah tersebut, (4) merangsang siswa melihat ulang semua permasalahan yang telah diselesaikan, sehingga memperoleh gambaran umum tentang keahlian dan keterbiasaan pemecahan masalah.

Penilaian dalam Pemecahan Masalah

Penting bagi kita sebagai guru, mengetahui bagaimana  mengajarkan pemecahan masalah. Juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui masalah apa yang sesuai untuk kita berikan kepada siswa. Banyak sekali sumber yang tersedia bagi Anda, misalnya buku teks yang mungkin berisi masalah yang sering muncul, dan sesuai dengan topik yang sedang Anda ajarkan. Selain itu, perlu pertimbangan pula bagaimana Anda akan mengadaptasikan dan mengembangkan masalah tersebut sesuai dengan kebutuhan dan  minat siswa.

Dalam pembelajaran, siswa dapat juga menjadi narasumber ketika Anda mendorong mereka untuk menciptakan masalah mereka sendiri. Walaupun aktivitas ini biasanya membutuhkan motivasi yang besar, Anda dapat menambah antusiasme siswa Anda dengan cara menampilkan masalah yang telah mereka ciptakan pada papan pajang (papan media),  juga dengan mengajak siswa Anda untuk saling berbagi pemecahan masalah dalam kondisi yang menyenangkan. Dengan demikian, Anda akan menemukan bahwa menciptakan masalah dapat mempertajam keterampilan siswa anda dalam memecahkan masalah.

DAFTAR RUJUKAN

Baroody, A.J. & Ginsburg, H.P. (1990). Children’s learning: A cognitive view. In R. B. Davis, C. A. Maher& N. Nodding (eds), Constructivist View on the Teaching and Learning of Mathematics (pp. 57-64). Reston, Virginia: NCTM.

Bell, F.H. 1978. Teaching and learning mathematics in secondary school. New York: Wm C. Brown Company Publisher.

Coffey, D., Klsch, P.& Mackinlay, M. 1995. Asessing problem solving and project work. In J. Wakefield and L. Velardi (Eds). Celebrating Mathematics Learning (pp. 196-201). Melbourne: The Mathematical Association of Victoria.

Erman Suherman dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Common Textbook. JICA. Malang: UM.

Hudoyo, H. 1990. Strategi mengajar belajar matematika. Malang: IKIP Malang.

Kaur Berinderjeet. 2008. Problem Solving in the mathematics Classroom (Secondary). National Institute of Education Singapore & Association of Mathematics Educor Singapore.

Kilpatrick, J. 1985. A Retrospective Account of the Past Twenty-five Years of Research on Teaching Mathematicsl Problem Solving. In E.A. Silver (ed). Teaching and Learning Mathematical Problem Solving: Multiple Research Perspectives. Hillsdale, NJ: Lwrence Erlbaum Associate, Publishers.

McGivney, J.M. & DeFranco, T. C. 1995. Geometry proff writing: A problem-solving approach a’la Polya. The Mathematics Teacher journal. 88(7), 552-555.

Musser, G. L. & Shaughnessy, J.M. 1980. Problem-solving strategies in school mathematics. In S. Krulik and R.E. Reys (Eds) ,1980. Yearbook. Problem-solving in school mathematics (pp. 136-145). Virginia: NCTM.

Musser, G.L. and Burger, W.F. 1994. Mathematics for Elementary Teachers: A Contemporary Approach. Third Edition. New York: Macmillan Publishing Company.

National Council of Teachers of Mathematics (NCTM).1980. An agenda for action : recommendations for school mathematics of the 1980s. Reston, Virginia: NCTM.

Ohio Department of Education. 1980. Problem Solving … a basic mathematics goal: Becoming a better problem solver. Columbus, OH.

Pusat Kurikulum. 2002a. Kurikulum dan Hasil Belajar Matematika Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.

Pusat Kurikulum. 2002b. Kurikulum dan Hasil Belajar Matematika Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Depdiknas.

Pusat Kurikulum. 2002c. Kurikulum dan Hasil Belajar Matematika Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Depdiknas.

Download File Lengkap Format PDF

Tinggalkan Komentar