Thomistic Philosophy | Realisme Theistik oleh St Thomas Aquinas mempunyai peran penting pada implikasi dunia pendidikan. Sejak masa pertengahan, Thomisme telah menjadi filosofi yang dominan yang berkaitan dengan Katolik Roma. Meskipun Aquinas tidak mengkonsentrasikan upayanya dalam menkonstruksi teori pendidikan, filosofinya yaitu Thomisme, telah diidentifikasi terkait dengan institusi pendidikan Katolik roma. Filosofinya mendapat dukungan dari tokoh yang tidak terkait dengan Katolik Roma, yaitu  Robert Hutchins dan Mortimer Adler.

Dalam klasifikasi filosofis, Thomisme tergolong pada jenis religious atau Realisme Ceistik/Cheistic realism. Thomistik mengikuti epistemology dan metafisika dasar dari ajaran realism natural Aristotelian dan juga mencakup prinsip-prinsip kristiani. Pengikut thomistik menerima  bagian dari ajaran realisme natural Aristotelian, yaitu: 1) tujuan keberadaan dunia dan berada di dalamnya serta hubungan makhluk hidup, independen terhadap pengetahuan dan keinginan manusia, 2) pengetahuan akan suatu obyek sebagai obyek itu sendiri, 3) kebutuhan kesesuaian manusia dengan tujuan sesungguhnya dalam pikiran tingkah laku manusia. Epistemologi Thomsitik juga menerima strategi kognisi Realist, yaitu bahwa terdapat objek atau orang dimana manusia dapat datang untuk mengetahui dua hal, proses sensasi dan abstraksi.

Berbeda dengan dengan realisme natural murni, Thomisme mencakup supernaturalisme. Termasuk didalamnya Revelation (wahyu) sebagai sumber kebenaran yang sempurna. Thomist menyatakan bahwa manusia ditakdirkan menjadi beatific vision (…), berhubungan erat dengan Tuhan, yang berkuasa atas tujuan akhir manusia dan kebahagiaan yang paling lengkap/sempurna. Namun, karena manusia mempunyai keinginannya yang tidak terbatas, mereka menjadi berdosa dan mendustakan Tuhannya, sang pencipta.

Thomisme mengambil baik dari Aristotelian Natural realism maupun dari teologi Katolik Cristiani, sebagai sebuah sistem yang merepresentasikan interpretasi dari keduanya. Dalam Thomisme, realitas berkaitan dengan agama dan dimensi material. Manusia, mempunyai badan dan jiwa, juga dilihat dari dua hal yaitu supernatural dan alamiah. Tuhan adalah maha terdahulu dan maha pencipta, dianggap sebagai sumber dari semua yang ada, menciptakan secara personal dan individu, dan tidak secara impersonal “ground of being”.

Interpenetrasi dari filosofi realistic dan teologi Kristiani dapat diperjelas dengan melihat karya filosofi pendidikan yang berasal dari prinsip-prinsip Thomistik. Dalam Catholic Viewpoint on Education,  Father Neil McCluskey membahas teologikal, sebagai dasar pendidikan Katolik, dan filosofikal yaitu sebagai dasar abadi dari pendidikan katolik. Menurut McCluskey, dasar pendidikan katolik adalah: 1) Tuhan menganugerahi manusia supernatural sehingga manusia dapat mengalami kehidupan keilahian; 2) melalui Dosa, manusia jatuh dari kehormatannya; 3) Jesus Kristus, sang Anak Tuhan, menyelamatkan manusia dan mengembalikan manusia pada ampunan tuhan dan kepada kehidupan natural yang dijanjikan.4) Kristus merepretasikan manusia sempurna dan sebagai contoh moral bagi umat kristiani yang mencari kehidupan seperti kristus, 5) aturan super natural menggantikan aturan natural dan tidak mengurangi nilai alamiah juga tidak mengurangi hak alami individu, keluarga, dan masyarakat.

McCluskey juga berpendapat pada filosofi pendidikan katolik, Beliau mengatakan: 1) Hanya ada satu tuhan yang keberadaannya dapat ditunjukkan dengan nalar.2) Manusia mempunyai akal untuk dapat hidup bersama dengan alam, 3)Sebagai seorang manusia, tiap orang adalah makhluk hidup yang bebas dan rasional.4) Kesempurnaan manusia adalah ketika mereka mengetahui dan memiliki kebenaran, keindahan, dan kebaikan. 5) Tubuh  manusia berkaitan dengan keberadaannya dengan alam sedangkan jiwa spiritualnya menjanjikan tujuan/ takdir yang melebihi hanya sekedar materi dan aturan alam yang bersifat sementara.

Pendeta William Cunningham dalam Pivotal problems of education mengacu pada sintesis dari realism dan theisme sebagai supernaturalisme. Cunningham mengatakan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan raganya, dan dituntun dengan baik oleh keimanan dan akalnya.  Bagi Cunningham, pendidikan mempunyai karakter yang abadi dan tidak berubah. Filosofi pendidikan yang didasarkan pada supernaturalisme  dapat menetapkan tujuan pendidikan tertentu dalam kaitannya dengan asal-usul, sifat, dan tujuan manusia. Manusia berasal dari Tuhan melalui penciptaan; sifat manusia dibentuk oleh gambaran dan kehendak Tuhan; tujuan manusia adalah kembali kepada Tuhan dari mana mereka berasal. Dalam kaitannya dengan filosofi pendidikan Supernatural, Bapa Cunningham mengklaim bahwa filosofi ini dapat menentukan tujuan, sasaran, dan akhir yang tertinggi dapat dicapai. Hal ini berkebalikan dengan bentuk naturalistik murni, yaitu eksperimentalisme, pragmatisme, dan progresivisme yang menolak keberadaan sifat spiritual manusia dan tujuan spiritual mereka.

Interpenetrasi dari Realisme dan Theisme dalam fisolofi Thomistik mempunyai implikasi pada pendidikan. Pendidikan  akan memiliki dua sisi dan satu set tujuan yang saling menggantikan yang berasal dari sifat dualisme manusia. Pendidikan seharusnya: 1) menyediakan pengetahuan, latihan dan aktivitas yang berkontribusi pada pengembangan spiritualitas manusia; dan 2) menyediakan pengetahuan, latihan, dan aktivitas yang rasionalitas/akal manusia. Jadi, tujuan, praktik, dan sasaran pendidikan dapat diorganisasi melalui konsep dualistik manusia dan realitas.

IMPLIKASI PENDIDIKAN DARI KONSEP THOMISTIK TENTANG MANUSIA

Aquinas mendefinisikan manusia sebagai ‘spririt in the world’, penjelmaan roh yang memiliki kesatuan tubuh yang bernyawa. Manusia adalah makhluk yang yang unik karena dia tersusun dari substansi badaniah dan spiritual dan merupakan kesatuan dari dua dunia, dengan jiwanya yang berada antara surga dan dunia. Manusia memiliki jiwa yang immortal, abadi, dan immaterial yang menjadi dasar prinsip kesadaran diri dan kebebasan. Jiwa manusia memerlukan perwujudan dan memiliki eksistensi historis dan social, dalam konteks temporal dan spatial, dimana manusia mengetahui, mencintai, dan memilih.

Dalam keberlanjutannya dengan Alam, tiap-tiap manusia dibentuk oleh waktu dan tempat tertentu dan berpartisipasi dalam ‘penulisan’ biografinya sendiri. Manusia adalah makhluk yang lahir, tumbuh, menjadi dewasa, dan meninggal dalam keluarga dan komunitas social. Sebagai makhluk social dan berkomunikasi, manusia telah mengembangkan percakapan, tulisan, dan bacaan formal. Pola  komunitas dan komunikasi ini  diperlukan dan harus dipelajari. Sekolah sebagai agen social memiliki kontribusi  pada perkembangan manusia sebagai partisipan dalam menalar dan berkomunikasi di kehidupan social.

Thomist menyadari bahwa masing-masing manusia hidup pada tempat dan waktu yang berbeda. Karena ada perbedaan historis dan adaptasi social, maka terbentuklah  budaya dan negara yang berbeda. Selain menyadari adanya perbedaan ini, Tomist menghindari adanya relativisme budaya. Dia mengatakan bahwa ada hal yang sama dalam sifat alami dan budaya manusia yang lebih penting dibandingkan adanya perbedaan tersebut. Semua manusia mempunyai sifat yang sama yaitu karena didasari realiitas spiritual dan material dimana manusia terlibat didalamnya.

Konsep tomistik terhadap sifat alamai manusia serta ‘spirit-in-the-world’ digunakan sebagai dasar pengembangan kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum,  prinsip hirarki umum bersifat operatif. Aspek eksistensi  yang paling umum, abstrak dan bertahan lama berada pada puncak hirarki. Aspek kehidupan yang bersifat khusus, spesifik, dan sementara berada pada tingkat yang lebih rendah. Kalau terdapat konflik dengan tingkat yang lebih rendah, diatasi dengan penyesuaian pada area kurikulum yang lebih luas dan lebih umum. Karena jiwa manusia abadi dan mempunyai tujuan mencapai kebahagiaan yang sempurna dari  sudut pandang Tuhan, maka studi dan latihan yang mempunyai kontribusi pada perkembangan dan formasi spiritual akan mendapatkan prioritas dalam kurikulum. Penekanan dilakukan pada studi tentang teologi, scriptural, dan religious. Karena manusia adalah makhluk yang rasional/berakal dan merupakan agen yang bebas, maka ditekankan pada pengetahuan dan latihan yang mempunyai kontribusi terhadap pengembangan latihan rasio/akal, sehingga manusia siap menghadapi pilihan hidupnya. Manusia hidup dalam lingkungan alam dan social dan memiliki tubuh secara material. Pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan manusia untuk menopang eksistensi fisik dan tubuhnya harus disertakan juga dalam kurikulum. Sebagai bagian dari sejawah, manusia menciptakan biografinya sendiri. dalam hidup di lingkungan social, manusia memerlukan sistem etika, hukum, politik, dan ekonomi yang berperan pada kehidupan personal dan social mereka. Dalam kaitan manusia sebagai makhluk social dan komunal, keterampilan bahasa dan literasi yang berperan dalam komunikasi dan masyarakat/komunitas membentuk pondasi utama dalam pendidikan formal. Keterampilan membaca, berbicara, dan menulis menadi bagian penting dalam penidikan dasar manusia.

Meskipun terdapat penjelasan yang lebih kini terkait pendidikan Katolik yang menekankan pada ecumenisme dan keadilan social, pernyataan Pope Pius XI dalam ‘On the Cristian Education of Youth’ sangat penting untuk ditelaah karena mengandung pendangan yang jelas tentang prinsip pendidikan Thomistik. Ketika berbicara tentang sifat pendidikan Kristiani, Pius mengatakan:

‘ Karena pendidikan penting untuk menyiapkan manusia menjadi apa dia seharusnya dan apa yang  seharusnya dia lakukan, dalam mencapai tujuan mulia kenapa dia diciptakan,    maka sangat jelas bahwa tidak ada pendidikan yang tidak mengarah pada tujuan akhir hidup manusia…… Pendidikan Kristiani mencakup semua aspek kehidupan manusia, fisikal dan spiritual, intelektual dan moral, individual, domestic, dan social’.

THOMISME DAN PENGETAHUAN

Seperti telah disampaikan sebelumnya, konsep epistemology Thomistic secara mendasar mengikuti pola Aristotelian. Manusia dengan cepat menyatu dengan realitas material melalui indera yang dimilikinya.  Melalui pengalaman, kebutuhan untuk mengetahui, manusia dapat mengindera benda-benda dan manusia lain. Indera adalah kekuatan tubuh yang menyatukan manusia dengan sense/rasa dari objek individu lainnya. Pikiran memberikan manusia kekuatan untuk mengetahui konsep dari pengalaman sensori dengan melakukan abstraksi dan memilah karakteristik atau keberadaan kualitas dari suatu objek. Konsep dibentuk dari pemikiran ketika kualitas universalnya dilepaskan dari keterbatasan yang nyata. Konsep adalah bentuk yang tidak nyata atau bentuk yang abstrak   yang dapat dimanipulasi dengan akal pikiran seseorang. Dengan mengorganisasi konsep, manusia dapat melakukan generalisasi berdasarkan pengalamannya dan dapat menciptakan alternatif tindakan yang mungkin untuk dilakukan. Ketika manusia melakukan pilihan, mereka menimbang dan memilih dari berbagai alternative yang mungkin.

Seperti Aristoteles, Aquinas mengatakan bahwa aktifitas manusia yagn tertinggi adalah rasionalitasnya, dari keberadaan kekuatan intelektual dan spekulatif. Melalui kekuatan akal/rasional tertentu, manusia dapat membedakan dirinya dengan objek lain dan menjadikannya paham akan dirinya. Intelegensi manusia memungkinkan mereka untuk mengatasi keterbatasan dalam melakukan abstraksi terhadap kualitas objek yang universal, penting, dan dibutuhkan. Melalui pemikiran, atau konseptualisasi, manusia dapat mengatasi keterbatasan determinisme primitive dan natural, serta dapat mengubah lingkungan alamnya sendiri. Dalam melakukan perubahan lingkungan, manusia harus memformulasikan rencana dan struktur akhir.  Hasil akhirnya adalah proyeksi hipotesis terhadap lingkungan dengan tujuan merubah lingkungan tersebut. Melalui eksperimen, seni, sains, dan teknologi, manusia dapat menggunakan intelegensinya untuk merubah lingkungan material.

Aquinas sependapat dengan Aristoteles bahwa manusia bertindak lebih humanis ketika dihadapkan pada spekulasi. Namun, Aquinas menekankan pada poin tertentu. Meskipun manusia adalah kekuatan paling tinggi dan paling memuaskan di bumi, tidak ada kebahagiaan yang lengkap dan sempurna. Manusia tidak dapat mencapai kebahagiaan yang sempurna sampai setelah kematian, mereka diangkat menuju Tuhannya, dan akan mengalami penyatuan kognisi dan afeksi dengan Tuhan.

Pendidik Thomistik menekankan pada fungsi intelektual di sekolah. Pada aspek ini, mereka sama seperti para pendidik Realis lainnya yang menekankan pada peran sekolah alam mengembangkan dan melatih akal manusia. Dalam ‘Pivotal Problems of Education’, Bapa Cunningham mengatakan bahwa fungsi sekolah yang utama yaitu intektual, namun tidak satu-satunya. Beliau juga mengatakan bahwa fungsi khusus sekolah katolik adalah pengembangan intelektual anak. Sebagai agen intelektual, sekolah Katotik paling peduli terhadap transmisi dan penggunaan seni dan sains liberal dalam melatih dan mengembangkan akal manusia. Meskipun memberikan kekhususan terhadap pengembangan intelektual, pengembangan fisik, social, dan religious tidak dilupakan.

Seperti kasus umum pada konsep pendidikan Realis, proses sekolah formal mencakup penyebaran isi dari mata pelajaran. Konsep thomistik tentang mata pelajaran (subject-matter) disebut ‘scientia’, atau pengetahuan yang diakumulasi, didemonstrasi, dan diorganisasi. Sebuah disiplin mata pelajaran, mengandung ilmu pengetahuan yang terdiri dari premis utama dari bukti berdasarkan eksperimen atau diturunkan dari ilmu pengetahuan yang lebih tinggi. Tubuh ilmu pengetahuan, atau mata pelajaran, ditransmisikan oleh guru, yang ahli pada bidang yang mereka ajarkan, kepada siswa, yang diharapkan menggunakan kekuatan intelektualnya untuk memahami, menguasai, dan mengaplikasikan prinsip-prinsip yang ada dalam mata pelajaran. Sebagai antisipasi, seni dan sains mempunyai konstribusi terhadap formasi intelektual orang yang berkomunikasi dengan seni dan sains tersebut.

DISTINKSI THOMISTIC: MENGAJAR DAN BELAJAR

Filosofi pendidikan Thomistik dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat terhadap makna pendidikan.  Bahkan bagi pendidik yang tidak mengajarkan teologi. Pendidik Amerika seringkali gagal menyampaikan perbedaan yang tepat antara pendidikan informal, yang terkait dengan dengan formasi lengkap dari seorang manusia, dengan pendidikan formal, yang dilakukan dalam konteks pembelajaran di sekolah yang terencana. Teori pendidikan Thomistik secara jelas membedakan antara ‘education’ dan ‘schooling’.

Education (pendidikan), atau education, didefinisikan sebagai formasi umum seseorang. Pada anak-anak, pendidikan merujuk pada pengasuhan atau membesarkan anak-anak secara menyeluruh/total. Pendidikan, merupakan proses menyeluruh dari perkembangan manusia, mencakup lebih dari sebuah instruksi formal, yang dilakukan di lingkungan terbatas di sekolah. Karena formasi total seseorang meliputi kekuatan formal dan informal, maka sekolah harus mempertimbangkan perkembangan total  tersebut.

Di sekolah, seseorang diperlakukan dengan instruksi/pembelajaran yang terencana/disengaja atau melatih disiplin, yaitu ketika seorang guru mengajar sesuatu kepada peserta didiknya. Kesuksesan atau kegagalan pembelajaran yang terenca tersebut tergantung pada hubungannya dengan formasi umum yang ada di luar sekolah.

Dalam konteks Thomistik, guru adalah orang yang memiliki pengetahuan atau keterampilan dan melalui instruksi/pembelajran mencoba menanamkan pengetahuan tersebut kepada peserta didik. Instruksi/pembelajaran adalah sebuah proses verbal tingkat tinggi dimana guru dengan hati-hati menggunakan kata-kata dan frasa yang tepat untuk mengilustrasikan prinsip atau mendemonstrasikan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik. Dalam proses belajar-mengajar tersebut siswa harus aktif, karena mereka memiliki potensi untuk melakukan pemahaman intelektual dan pengetahuan yang sesuai. Bahasa yang digunakan guru adalah rangsangan untuk memotivasi dan untuk menjelaskan sehingga siswa dapat menjalankan intelektualnya (berpikir).

Seorang guru Thomistik harus mempunyai keterampilan sebagai komunikator, seorang retorist yang baik. Untuk dapat berkomunikasi secara efektif, guru harus menggunakan kata-kata yang tepat, menggunakan gaya bicara yang sesuai, dan memilih contoh-contoh serta analogi yang pas. Sebagai seorang komunikator handal, guru juga harus berhati-hati sehingga pembelajarannya tidak hanya menjadi kata-kata verbal yang membosankan atau menjadi sebuah ceramah yang menggunakan kata-kata yangtidak bermakna/bermanfaat untuk pembelajaran siswa. Pembelajaran harus dimulai dengan sesuatu yang telah dimiliki siswa dan kemudian mengarah ke suatu hal yang baru. Mengajar  mencakup bagaimana mengatur dan mengorganisasi materi yang akan diajarkan dengan hati-hati.

Thomas Aquinas memandang kegiatan mengajar sebagai pekerjaan, panggilan untuk melayani manusia. Karena keinginan untuk melayani tersebut, maka guru yang baik dimotivasi oleh kecintaan pada kebenaran, kecintaan pada manusia, dan kecintaan pada Tuhan. Tidak seperti emosionalisme yang dimiliki pendidik naturalist romantic-nya Rousseau dan Pestalozzi, yang juga mengajarkan doktrin kasih sayang, seorang guru Thomistik menjunjung pengembangan rasionalitas/akal. Seperti Aristotelian asli, Tomistik menekankan bahwa cinta murni datang dari pengetahuan, dan didasarkan pada akal. Oleh karena itu, tidak boleh hanya berupa hubungan personal yang penuh emosi. Tetapi selalu berupa pengetahuan, berupa kebenaran, yang berguna untuk ditransmisikan dan berguna untuk diketahui oleh peserta didik.

Dalam konsep Thomistik dari seorang guru, seni mengajar jarang dianggap sebagai percampuran antara perenungan hidup dan kehidupan nyata.   Sebagai bagian dari perenungan, seorang guru harus meluangkan waktu untuk meneliti dan melakukan temuan. Dia harus mengetahui materi yang diajarkan secara menyeluruh, apakah itu teologi, matematika, atau sains. Banyak dari hasil penelitian mereka disimpan dengan baik di perpustakaan. Guru juga sebagai orang yang aktif, yang terlibat dengan siswa dan mengkomunikasikan pengetahuannya dengan mereka.

PENDIDIKAN MORAL

Pendidikan Thomistik, khususnya di sekolah katolik Roma, dimaksudkan untuk menjadi pendidikan yang mempunyai komitmen thp nilai supernatural. Tujuannya adalah menjadi individu kristiani. Teologi dan pendidikan agama jelas menjadi bagian dalam pendidikan. Penenaman nilai tidak hanya diberikan dalam pendidikan agama dalam bentuk pelajaran formal tetapi juga dalam lingkungan pergaulan dan kegiatan di sekolah, yang menekankan pada praktik, kebiasaan, dan ritual keagamaan

Aquinas berpendapat, bagaimanapun juga pengetahuan tidak harus mengarah kepada moral. Meskipun manusia memahami prinsip-prinsip keagamaan dan mengetahui cara-cara beribadat, pengetahuan tidak dapat disamakan dengan kebaikan. Di saat rasionalitas bukan merupakan sesuatu yang baik, hanya manusia yang mempunyai intelegensi yagn dapat membedakan antara moral yang baik dan yang buruk. Sebagai pihak yang merdeka, manusia mempunyai pilihan. Manusia memiliki kemampuan untuk  membentuk, menyadari, dan mengevaluasi berbagai alternatif tindakan.

Dalam konteks Thomistik, pendidikan moral adalah proses membiasakan pembelajarn dalam suasana kebaikan. Lingkungan belajar harus mempunyai model nilai yang akan dijadikan contoh yang baik. Lingkungan sekolah kristiani seharusnya menyediakan berbagai latihan dan kondisi yang kondusif dalam pembentukan disposisi yang bernilai baik.

KESIMPULAN

Pendidikan Thomistic didasarkan pada premis dalam filosofi Aristotelian serta kitab suci umat Kristiani. Thomisme menegaskan bahwa pendidikan seharusnya membantu manusia untuk memperoleh kehidupan supernatural. Menurut realisme, ditegaskan bahwa manusia memiliki karakteristik yang berbeda dan bahwa pendidikan seharusnya mempunyai kontribusi pada kehidupan intelektual. Pendidikan yang lengkap seharusnya juga memfasilitasi partisipasi aktif setiap manusia dalam budaya dan sejarah mereka masing-masing. Meskipun Thomisme merekomendasikan pendidikan yang berbasis intelektual, namun Thomisme menyadari bahwa manusia adalah manipulator dari lingkungan alam dan pencipta budaya. Sebagai pekerja, manusia juga memerlukan persiapan untuk kehidupan yang professional dan okupational.

SELECTION

Neil Mc Clusky.

Pastor Neil McClusky anggota dari Serikat Jesuit, lahir di Seattle Desember 1920. Sarjananya (1944), dan Magister (1945) dari Universitas Gonzaga. Pastor McCluskey menerima gelar doktor dari Universitas Columbia pada tahun 1957. Ia mengajar di Universitas Seattle, Universitas Gonzaga, dan Universitas Notre Dame. Sejak tahun 1955 sampai 1966, ia menjadi editor di Amerika. Karya tulisannya antara lain Catholic Education in America (1964) dan Catholic Education Faces Its Future (1969). Dari sudut pandang agama Katolik tentang pendidikan Pastor McCluskey membahas :

  1. Filsafat dan teologis berdasarkan pendidikan Katolik.
  2. Hak dan hubungan gereja dan negara dalam pendidikan.
  3. Nilai-nilai dari pendidikan Kristiani.

Salah satu pernyataan yang paling jelas dari tujuan dan ruang lingkup pendidikan Katolik telah ditulis 30 tahun yang lalu oleh Paus Pius ke XI dalam suratnya yang berjudul “The Christian Education of Youth”. Dalam surat itu dijelaskan tentang hakekat pendidikan, pembagian hak dalam pendidikan, dan objek dalam pendidikan Kristiani. Kami telah menyeleksi beberapa point penting dan akan disajikan sebagai titik awal diskusi tentang teologi dan filsafat berdasarkan tradisi pendidikan Kristiani.

Pendidikan Katolik mempunyai 2 dasar yaitu :

Dasar Filosofis

  1. Tuhan adalah pribadi yang keberadaannya dapat dibuktikan dengan akalbudi.
  2. Manusia diciptakan ke dunia oleh Tuhan untuk tujuan sesuai kodratnya sebagai manusia.
  3. Manusia adalah makhluk rasional yang dari dirinya sendiri memiliki pengetahuan, memiliki kebenaran, keindahan dan kebaikan-kebaikan.
  4. Meskipun manusia memiliki tubuh/materi (berbadan) untuk hidup dalam alam, ia memiliki juga jiwa spriritual yang menandakan takdirnya yang melampaui ruang dan waktu (space and time).

Dasar Teologis

  1. Allah memberikan manusia KARUNIA ISTIMEWA yaitu kehidupan supranatural dengan cara yang yang Tuhan kehendaki setelah pengadilan terakhir untuk kehidupan ilahi.
  2. Adam, manusia pertama, jatuh dari nikmat Allah (jatuh dalam dosa) dan sebagai kepala umat manusia, maka bersama dengan keturunan manusia sesudahnya manusia kehilangan kehidupan superanaturalnya, tetapi oleh KASIH/CINTA TUHAN kehidupan supranatural itu adalah sebuah janji yang akan ditepati oleh Tuhan sendiri melalui Yesus Kristus.
  3. Pendidikan Katolik didasarkan pada contoh dan ajaran Kristus, sebagai manusia yang sempurna.
  4. Hukum supranatural tidak memadamkan nilai akalbudi dan tatanan alam, maupun hak-hak alami dari individu, keluarga atau masyarakat maupun apa yang ada dalam pendidikan itu sendiri.

Filosofis Katolik dibangun dari 2 pertanyaan yaitu : Apa itu manusia? Dan Apa tujuannya?. Untuk agama Katolik kebenaran bukan semata tujuan utama dan sasaran akhir pendidikan, melainkan mengintegrasikan prinsip telogis, petunjuk filosofis, dan aturan-aturan moral.

Konsep Katolik tentang pendidikan menjadi latar belakang di kehidupan sosial dimana manusia tinggal dan berkembang. Agama Katolik percaya bahwa pendidikan sebagai dasar etika, perlu dihubungkan dengan tujuan manusia. Sejak gereja dibangun oleh Yesus untuk menjadi panduan mencapai tujuan, pendidikan menjadi fungsi yang tepat dari gereja.

Apa yang menjadi alasan utama orang tua Katolik dan pastor memilih pendidikan Katolik ?. Ada 4 point antara lain:

  1. Anak-anak belajar secara sistematis dan sepenuhnya tentang agamanya. Ia memperoleh pengetahuan formal dari kebenaran wahyu kristiani, termasuk keberadaan dan sifat Tuhan, inkarnasi kristus dan penebusan, Gereja Kristus dan cara kerja roh kudus di dalamnya, sejarah orang-orang  m pilihan dan gereja.
  2. Anak-anak mengalami kesempatan langsung dan tidak langsung, untuk pendalaman agama. Anak-anak memiliki akses langsung ke sakramen, anak-anak belajar untuk menjadi seorang pendoa, anak-anak memperoleh pengetahuan praktis and mencintai gereja sebagai kehidupan liturgi.
  3. Anak-anak belajar bahwa imannya bukan sesuatu yang terpisah tetapi berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan.
  4. Anak-anak memperoleh sikap Katolik atau pandangan hidup didasarkan atas pengetahuan yang kuat tentang tugas dan hak istimewa sebagai pengikut Kristus, dia mendapatkan kebanggaan dan cinta dan kesetiaan kepada warisan Katolik nya.

Pengetahuan bukanlah iman tapi karena iman adalah kebajikan intelektual mereka berjalan beriringan. Seseorang belajar tentang agama pada saat yang bersamaan dia belajar juga tentang bahasa. Mungkin yang paling khas, tentu saja yang paling penting dalam pendidikan sekolah Katolik adalah penggabungan pengetahuan dalam suasana di mana dalam spiritual dan supranatural menjadi sebuah nilai-nilai. Filosofis pendidikan katolik didasarkan pada realitas supernatural.

Sekolah katolik membagi tanggung jawab mengajar anak antara rumah dan gereja. Dalam kehidupan modern saat ini dimana kemerosotan nilai-nilai sosial, moral intelektual dan spiritual  merajalela, anak-anak membutuhkan benteng yaitu agama, kekuatann agama yang akan membentuk dan membimbing rasioanl menjadi makna dalam kehidupan anak-anak.

Dalam gereja Katolik dikenal yang disebut sakramen, sakramen berasal dari bahasa Latin Sacramentum, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan yang kudus atau yang ilahi. Sakramen juga berarti tanda keselamatan Allah yang diberikan kepada Manusia. Siswa pada rentang sekolah dasar mulai akan mempersiapkan dirinya untuk mengikuti penerimaan komuni pertama. Sebelum anak-anak dapat menerima komuni pertamya, meraka harus melalui tahapan belajar dan mempersiapkan mental. Pendidikan dalam gereja Katolik juga dimaksudkan untuk mempersiapkan mental manusia.

Uskup Katolik Amerika pernah menyatakan pentingnya kekuatan agama yaitu antara lain:

  1. Pertama-tama, itu akan membangkitkan dalam diri seseorang akan suatu kesadaran akan adanya Tuhan dan keabadian.
  2. Agama akan memberikan manusia tujuan hidup, agama juga mengajarkan untuk mengetahui, mencintai, dan melayani Tuhan sebagai jalan untuk mendapatkan kebahagiaan kekal.
  3. Agama akan mendorong manusia dalam dirinya rasa tanggung jawab akan hak-hak dan kewajiban yang dimilikinya baik dibumi mapun di surga.
  4. Yang terkahir agama akan menantang manusia untuk memilih jalan hiduo yang kudus, mencari dan menerima kehendak Tuhan dengan cara apa pun yang mungkin terwujud.

Sebagai prinsip yang terintegrasi, agama akan membantu anak-anak untuk mengembangkan a sense of God, a sense o direction, a sense of responsibility, dan a sense of mission dalam kehidupan anak-anak.

Sumber : Sebuan Intisari Dari Buku Yang Berjudul Philosophical Alternative In Education By Gerald Lee Gutek, Loyola University Of Chicago

Tinggalkan Komentar